Langsung ke konten utama

NANTI 2025

Belum selesai aku menulis tentang kisahku mengenal BTS. Tanggal 22 November 2023, sehari sebelum aku menulis ini,  terdapat notifikasi Weverse yang berasal dari Big Hit Music. Isinya tentang rencana wajib militer empat member BTS; RM, Jimin, V dan Jung Kook. rasanya sangat sedih sekali, terutama oleh RM. Hampir setiap hari ketika aku membuka Instagram, cerita Instagram yang dibuat oleh RM selalu menjadi prioritas pertama untuk aku lihat. Meskipun aku tidak mengerti secara penuh isinya, tapi aku cukup senang jika telah melihatnya. 

Aku baru saja mengenalnya. Aku belum mendengarkan semua lagunya. Aku belum hafal lirik lagu satu pun secara penuh  Aku belum pernah membeli album dan merchandise-nya. Aku belum pernah menonton konsernya. Mengapa harus ditinggalkan? Lagu Life Goes On membuatku meneteskan air mata.

Benar. Aku hanya salah satu dari jutaan penggemar BTS. Belum setahun aku memutuskan untuk menjadi ARMY (Adorable Representative MC for Youth), namun aku merasa BTS sangat berarti untuk hidupku selama satu tahun ini. Mungkin aku tidak akan pernah bisa memiliki kesuksesan dan prestasi dalam dunia musik seperti mereka. Mungkin aku tidak akan pernah memiliki pengalaman sebanyak mereka. Mungkin juga aku tidak akan pernah memiliki pencapaian dalam hidup seperti mereka.

Apa yang bisa mereka lakukan untukku? Mereka menginspirasiku dengan kisah, semangat, perjuangan, dan kerja keras mereka. Aku bisa meniru itu. Aku tidak hanya mengagumi mereka secara visual. Bahkan, sejak pertama aku memiliki keingintahuan tentang mereka, aku kurang tertarik dengan visual mereka. Jika hanya tertarik secara visual, mungkin aku lebih memilih idol yang lain ketimbang BTS. Lebih dari itu, aku terpikat oleh lagu-lagu yang mereka nyanyikan juga jenis musik mereka. 

Aku hanya orang biasa yang tidak paham dengan dunia musik. Aku hanya bisa memilih lagu mana yang ingin aku dengarkan sesuai dengan perasaanku pada saat itu tanpa aku tahu bagaimana caranya menghasilkannya. Kalau sekadar menulis lirik lagu dengan kata-kata yang tersusun secara acak, kemungkinan besar aku bisa melakukannya. Namun, ini bukan hanya soal menulis kata-kata yang biasa aku gunakan ketika bercerita. Ini berbeda. Apa aku harus berguru kepada bapak leader BTS, Kim Nam-joon? Sepertinya itu sangat mustahil untuk dilakukan. Bertemu saja memiliki kemungkinan yang sangat sangat sangat tipis sekali.

Aku juga ingin bisa memainkan banyak alat musik. Aku ingin belajar bagaimana caranya. Tapi, hingga detik ini aku belum bisa memainkan satu alat musik pun. Melihat dan menyentuhnya secara langsung saja mungkin hanya bisa dihitung dengan jari tangan kanan. Oh, tentu, keinginan untuk belajar tetap ada. Tak apa jika aku tidak menguasainya secara baik. Toh dari awal niatku hanya untuk belajar. Jika aku menjadi master dalam suatu bidang, aku anggap itu sebagai bonus atas kegigihanku dalam mempelajarinya. Yang aku perhatikan selama beberapa hari ini, semua orang memiliki kesempatan untuk belajar apa pun. Namun, hanya orang-orang pilihan saja yang mampu menguasainya.

Apa aku akan tetap setia dengan BTS? Entahlah... Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba menunggu hingga tahun 2025. Karena, manusia buruk dalam  memprakirakan dirinya pada masa depan. Aku termasuk ke dalam salah satunya. Membuatku kenal dengan BTS mungkin salah satu cara Allah agar aku tetap bertahan hidup di tengah-tengah ujian yang Allah SWT. datangkan untukku. Aku menganggap BTS sebagai perantara antara Aku dengan Allah SWT. Allah SWT. Maha Baik dan dengan kebaikannya, ia memberikan kebaikan kepada hamba-Nya untuk berbuat baik dan memperbaiki dirinya. 

Aku menanti BTS di tahun 2025 dengan segala keadaanku pada waktu itu. Semoga aku bisa menonton langsung konsernya dan bertemu langsung dengan mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIAPA PUN

Sejujurnya, ada hal yang mengusik pikiranku selama 7 bulan terakhir ketika aku membuka akun blogger ini. Selain mengusik, hal itu juga menjadi pertanyaan yang ingin aku temukan jawabannya. Adalah, Bagaimana mungkin orang-orang bisa membaca tulisan-tulisanku? Dari pencarian yang mana, mereka bisa sampai di halaman yang isinya hanya omong kosong? Apakah itu sebuah ketidaksengajaan? Atau mungkin saja, sengaja? Dalam setiap tulisanku selama 7 bulan ini, ada beberapa orang yang melihatnya. Jumlahnya tak banyak, bisa dihitung dengan jari tangan kanan.  Memang, aku ingin menjadi penulis yang terkenal. Tapi, rasanya aneh jika ada orang yang membaca tulisanku. Aku? Merasa tidak percaya diri ketika ada orang yang membacanya. Kebiasaanku yang mungkin "buruk" ketika aku menulis adalah aku tidak bisa membaca kembali apa yang sudah aku tulis. Rasa yang aku berikan ketika aku menulis dengan rasa ketika aku telah selesai menulisnya itu sangat berbeda, menurutku. Ada tulisan yang aku buat ket...

Terima Kasih

 Hai kamu... Terima kasih ya... Sudah bertahan sampai detik ini. Terima kasih, telah sampai di detik ini. Terima kasih, kamu masih semangat menjalani hari ini. Pasti tidak mudah kan untuk melewati semua ini, tapi ternyata kamu bisa kuat.  Kamu bisa tetap kokoh berdiri di tengah semua rasa yang menghampirimu. Lelah, sedih, stres,  dan tertekan, semua pernah kamu rasakan. Kamu tahu, siapa musuh terbesarmu? Jawabannya adalah dirimu sendiri. Ketika tidak ada lagi orang-orang yang menjadi lawanmu, kamu harus bisa melawan dirimu sendiri. Kamu harus menghadapi dirimu; ketakutanmu, kemalasanmu, kekhawatiranmu, kecemasanmu, kelelahanmu, keputusasaanmu, dan yang lainnya. Satu kunci yang harus kamu pegang, kamu harus selalu tersenyum. Bagaimanapun keadaannya, kamu yang mencakup jiwamu, hatimu, juga pikiranmu harus seneng. Beban bukan beban jika dilakukan dengan hati yang gembira. Lelah bukan lelah jika dilakukan dengan jiwa yang bahagia. Jalani sepenuh hati.  Jalani dengan kesu...

SENTILAN

          Hariku, hari ini, bukan hanya hari biasa. Mungkinkah sebuah kebetulan? Tapi rasa-rasanya tidak tepat jika disebut dengan kebetulan. Bukankan dalam hidup sudah ada yang mengaturnya? Mengatur jalan hidup(?) Termasuk pertemuan hari ini. Mungkin lebih tepatnya ketidaksengajaan bagiku, tapi sebuah takdir yang telah ditulis oleh Tuhan. Bertemu dan berbincang dengan seseorang yang dari dulu selalu kuanggap "guru". Bukan guru sembarang guru. Namun seorang guru yang selalu berusaha untuk memahami santrinya. Meskipun kedudukannya sekarang sama dan setara, aku tetap menganggapnya guruku.            Obrolan siang tadi bukan obrolan sembarang obrolan. Obrolan yang biasanya hanya "seadanya" dan "sekenanya" karena ada sebuah dinding pemisah meskipun saling berhadapan, berubah menjadi obrolan yang panjang dan penuh makna. Tentunya bagi diriku.            Sebuah sentilan.     ...