Langsung ke konten utama

Orang Baru (Review The Beginning of the Sea) #1

Beberapa hari yang lalu, aku menonton cuplikan sebuah drama Jepang yang secara tidak sengaja lewat di beranda media sosialku. Judulnya, The Beginning of the Sea (Umi no Hajimari). Dan malam ini, aku telah selesai menonton semua episodenya termasuk episode spesialnya. Tidak ada komentar panjang lebar dariku. Tapi, yang bisa aku tulis adalah drama itu sangat menyentuh di setiap episodenya.😥 Sebenarnya aku perlu sedikit penyesuaian ketika menontonnya. Alasannya karena dalam 3 pekan ini, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan drama Korea, Dr. Romantic S1, S2, & S3. Drama medis yang membutuhkan gerak cepat dalam segala situasi dan kondisi tentang kesehatan, terutama ketika menyangkut nyawa manusia. Ketika menonton The Beginning of the Sea, yang seperti itu tidak ditemukan. Karena dalam drama tersebut, tidak ada cerita untuk bersikap gedebak-gedebuk, terburu-buru dalam melakukan sesuatu. Semuanya dilakukan dengan perlahan dan penuh perasaan.

Ada pesan dan pelajaran yang dapat aku petik dari drama The Beginning of the Sea. Yang paling membuatku berpikir lebih setelah menontonnya adalah tentang kehadiran orang baru. Orang itu tidak pernah ada selama sekian lama, lantas dengan cerita yang entah bagaimana, ia dapat dengan muncul secara tiba-tiba. 

Sekilas cerita~

Tokoh anak perempuan bernama Nagumo Umi (biasa dipanggil Umi) selama 6 tahun hidupnya, hanya tinggal bersama dengan ibunya, Nagumo Mizuki tanpa kehadiran sosok ayah di sebuah kamar apartemen kecil. Ketika usianya mendekati 7 tahun, ibunya meninggal dunia karena kanker serviks. Pada saat kematian ibunya, ayahnya yang selama ini hanya ia ketahui namanya saja, datang ke rumah duka. Dan itulah pertemuan pertamanya dengan ayah kandungnya. Ayahnya bernama Tsukioka Natsu tidak mengetahui tentang kelahiran Umi selama ini. Mizuki bagi Natsu adalah mantan pacar semasa kuliah dan mereka tidak pernah berkomunikasi lagi setelah Mizuki memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Pada saat mengetahui kehamilannya, Mizuki berniat untuk menggugurkan kandungannya dan meminta bahkan memaksa Natsu untuk menandatangani surat persetujuan aborsi. Pada awalnya, Natsu enggan menandatangani surat tersebut. Namun karena desakan dari Mizuki, akhirnya dengan berat hati ia menandatanganinya. 

Ketika di rumah duka, Natsu bertemu dengan ibu dari Mizuki dan meminta Natsu untuk menjadi wali dari Umi. Kebingungan melanda Natsu karena kenyataan yang baru didengarnya dari ibu Mizuki bahwa Umi adalah anak yang dilahirkan oleh Mizuki, yang berarti Umi merupakan anak kandungnya. Pada saat itu, Natsu telah berpacaran dengan kekasihnya, Yayoi Momose selama 3 tahun. Sungguh situasi yang tidak mudah untuk dihadapi oleh Natsu. Menurutku, situasi berat ini tidak hanya dialami oleh Natsu, tapi juga yang banyak orang; Umi, Yayoi, orang tua Mizuki, orang tua Natsu, dan rekan kerja Mizuki yang sering membantu Mizuki untuk menjaga Umi ketika Mizuki sedang bekerja di perpustakaan. Salah satu rekan Mizuki yang bernama Tsuno adalah orang yang paling dekat dengan Umi dan Mizuki. Di episode spesial, keduanya saling mencintai satu sama lain. Akan tetapi, setiap Mizuki melihat Umi, ia mengingat tentang ayah Umi. Mizuki tidak ingin Tsuno tersakiti karena hal tersebut, meskipun Tsuno merasa tidak apa-apa hal itu.

Kecanggungan terjadi antara Natsu dengan orang tua Mizuki ketika Natsu berkunjung ke rumahnya untuk bertemu dengan Umi. Nenek Umi merasa tidak rela jika Umi diasuh oleh Natsu karena ia skeptis bahwa Natsu akan menjadi ayah yang baik bagi Umi. Ditambah dengan status Natsu yang berpacaran dengan Yayoi. Beberapa saat setelah kematian Mizuki, Natsu berkata jujur kepada Yayoi tentang kehadiran Umi dan Yayoi tidak mempermasalahkan hal tersebut dan malah memiliki keinginan untuk menjadi ibu dari Umi. Namun, Natsu agak keberatan dengan keinginan Yayoi dan secara tidak sengaja, pada setiap mereka bersama, Natsu terus menerus membicarakan tentang Mizuki dan tidak memikirkan perasaan Yayoi. Keinginan Yayoi untuk menjadi ibu dari Umi bukan tanpa sebab. Beberapa tahun sebelum bertemu dengan Natsu, Yayoi memiliki pacar dan mereka berkencan hingga Yayoi hamil. Yayoi tidak memiliki keinginan untuk menggugurkan kandungannya. Namun, ketika berbicara dengan pacarnya maupun ibunya, mereka tidak mendukung keputusan Yayoi untuk mempertahankan anaknya dan menyuruhnya untuk segera melakukan aborsi. Jika ia tak jadi melakukan aborsi, maka kemungkinan besar anaknya seumuran dengan Umi. Setelah memikirkan kembali, Yayoi memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Natsu. Meskipun ia sangat mencintai Natsu, tapi Mizuki tetap memiliki tempat sendiri di hatinya Natsu.

Natsu dikenal sebagai orang yang suka mengakomodasi orang lain. Oleh keluarganya sendiri, ia dikenal sebagai pribadi tertutup yang tidak banyak bicara dan jarang pulang ke rumah. Keluarganya sendiri terdiri dari ibu kandungnya, ayah tirinya, dan saudara tirinya. Ia juga memiliki kekhawatiran bahwa keluarganya tidak menerima kehadiran Umi. Tapi, dugaannya keliru. Keluarganya sangat menerima kehadiran Umi, meskipun pada awalnya terlihat kaget dengan apa yang telah diceritakan oleh Natsu tentang Umi dan ibunya. 

Butuh waktu beberapa bulan untuk Natsu melakukan pendekatan pada Umi. Meskipun harus menjadi ayah tunggal dan tidak lagi bersama dengan Yayoi, Natsu bertekad untuk menjadi ayah yang baik untuk Umi. Umi termasuk anak yang ceria dan gampang akrab dengan orang baru. Tapi, Natsu mengalami kesulitan untuk memahami perasaan Umi yang sering mengingat Mizuki. Banyak perubahan yang terjadi di hidup Umi setelah ia memilih untuk tinggal bersama dengan Natsu. Ia sering merasa kesepian dan pernah suatu waktu melarikan diri dari rumah Natsu untuk pergi menemui Tsuno. Umi mencurahkan perasaan dan kesedihannya kepada Tsuno. Ia merasa bahwa  Natsu tidak paham dengan kesedihannya dan menyuruhnya untuk melupakan Mizuki. Sadar akan apa yang menjadi kebutuhan Umi, Natsu berusaha berubah untuk lebih memahami Umi. Semua orang sayang Umi, semua orang menerima kehadiran Umi, dan semua orang menjadi teman Umi. Kata "umi" dalam bahasa Jepang berarti "laut" atau "samudra", tempat yang disukai oleh ibunya, Mizuki.

Cerita selesai.

Apa pelajaran yang bisa aku ambil? Tentang penerimaan akan hadirnya orang baru. Tidak mudah, memang. Tapi, semua tokoh yang ada di dalam drama tersebut berusaha untuk membuka diri dan menerima kehadiran orang baru di hidup masing-masing. Orang baru bukan hanya sekadar "orang" yang hadir dalam hidup. Lebih dari itu, orang baru dapat membuat hidup berubah. Jalan cerita yang sudah direncanakan, bisa tiba-tiba saja berganti. Rencana yang sudah disusun, bisa tiba-tiba tidak beraturan. Perlu proses adaptasi yang tidak sebentar untuk menganggap kehadiran orang baru sebagai bagian dari hidup. 

Untuk diriku sendiri, aku mempertanyakan, bagaimana jika aku telah menikah nanti? 

Bagaimana aku bisa menerimanya sebagai suamiku?

Bagaimana perubahan yang akan terjadi dalam keluargaku setelah kehadiran orang baru? 


N.B. Mizuki mengurungkan niat menggugurkan kandungannya setelah membaca tulisan Yayoi di sebuah buku catatan yang ada di rumah sakit.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIAPA PUN

Sejujurnya, ada hal yang mengusik pikiranku selama 7 bulan terakhir ketika aku membuka akun blogger ini. Selain mengusik, hal itu juga menjadi pertanyaan yang ingin aku temukan jawabannya. Adalah, Bagaimana mungkin orang-orang bisa membaca tulisan-tulisanku? Dari pencarian yang mana, mereka bisa sampai di halaman yang isinya hanya omong kosong? Apakah itu sebuah ketidaksengajaan? Atau mungkin saja, sengaja? Dalam setiap tulisanku selama 7 bulan ini, ada beberapa orang yang melihatnya. Jumlahnya tak banyak, bisa dihitung dengan jari tangan kanan.  Memang, aku ingin menjadi penulis yang terkenal. Tapi, rasanya aneh jika ada orang yang membaca tulisanku. Aku? Merasa tidak percaya diri ketika ada orang yang membacanya. Kebiasaanku yang mungkin "buruk" ketika aku menulis adalah aku tidak bisa membaca kembali apa yang sudah aku tulis. Rasa yang aku berikan ketika aku menulis dengan rasa ketika aku telah selesai menulisnya itu sangat berbeda, menurutku. Ada tulisan yang aku buat ket...

Terima Kasih

 Hai kamu... Terima kasih ya... Sudah bertahan sampai detik ini. Terima kasih, telah sampai di detik ini. Terima kasih, kamu masih semangat menjalani hari ini. Pasti tidak mudah kan untuk melewati semua ini, tapi ternyata kamu bisa kuat.  Kamu bisa tetap kokoh berdiri di tengah semua rasa yang menghampirimu. Lelah, sedih, stres,  dan tertekan, semua pernah kamu rasakan. Kamu tahu, siapa musuh terbesarmu? Jawabannya adalah dirimu sendiri. Ketika tidak ada lagi orang-orang yang menjadi lawanmu, kamu harus bisa melawan dirimu sendiri. Kamu harus menghadapi dirimu; ketakutanmu, kemalasanmu, kekhawatiranmu, kecemasanmu, kelelahanmu, keputusasaanmu, dan yang lainnya. Satu kunci yang harus kamu pegang, kamu harus selalu tersenyum. Bagaimanapun keadaannya, kamu yang mencakup jiwamu, hatimu, juga pikiranmu harus seneng. Beban bukan beban jika dilakukan dengan hati yang gembira. Lelah bukan lelah jika dilakukan dengan jiwa yang bahagia. Jalani sepenuh hati.  Jalani dengan kesu...

SENTILAN

          Hariku, hari ini, bukan hanya hari biasa. Mungkinkah sebuah kebetulan? Tapi rasa-rasanya tidak tepat jika disebut dengan kebetulan. Bukankan dalam hidup sudah ada yang mengaturnya? Mengatur jalan hidup(?) Termasuk pertemuan hari ini. Mungkin lebih tepatnya ketidaksengajaan bagiku, tapi sebuah takdir yang telah ditulis oleh Tuhan. Bertemu dan berbincang dengan seseorang yang dari dulu selalu kuanggap "guru". Bukan guru sembarang guru. Namun seorang guru yang selalu berusaha untuk memahami santrinya. Meskipun kedudukannya sekarang sama dan setara, aku tetap menganggapnya guruku.            Obrolan siang tadi bukan obrolan sembarang obrolan. Obrolan yang biasanya hanya "seadanya" dan "sekenanya" karena ada sebuah dinding pemisah meskipun saling berhadapan, berubah menjadi obrolan yang panjang dan penuh makna. Tentunya bagi diriku.            Sebuah sentilan.     ...