Langsung ke konten utama

MENDESAK

Masih dengan penantian dan pengharapan yang sama, pada satu orang yang telah mengisi hatiku selama beberapa tahun. 

Aku membutuhkan kepastian, apakah aku dan kamu masih memiliki kesempatan? Kesempatan untuk bersama, kesempatan untuk merangkai kisah bersama, kesempatan untuk menapaki jalan dengan tujuan yang sama, kesempatan untuk membina hubungan yang lebih serius lagi, kesempatan untuk berbagi kisah dan berkeluh kesah, kesempatan untuk saling memahami dan mengerti satu sama lain, kesempatan untuk menjadi "rumah" yang nyaman, kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua, dan kesempatan-kesempatan yang lain. 

DRAFT

Dan jawabannya adalah T-I-D-A-K. 

20 Maret 2024 aku menulis kalimat-kalimat di atas, dan satu bulan setelahnya, aku memutuskan untuk mengakhirinya. Aku memutuskan untuk berhenti, berhenti untuk membuat kesempatan-kesempatan yang aku tuliskan di atas terwujud suatu saat nanti. Aku memikirkan kembali cerita yang sudah-sudah, tapi selalu memiliki akhir yang sama. Daripada aku memiliki akhir cerita yang sama untuk yang kesekian kalinya, aku lebih memilih untuk tidak melanjutkannya. 

Usai. Benar-benar selesai. 

Tanpa tangis dan air mata. 

Lega? Entahlah.... Melepaskan ikatan kencang yang bertahun-tahun telah aku pertahankan tidak serta merta membuat diriku merasa bebas. Rasa sakit bahkan mungkin bekasnya, masih tetap ada. Butuh waktu untuk membuatnya tak merasa menyakitkan lagi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIAPA PUN

Sejujurnya, ada hal yang mengusik pikiranku selama 7 bulan terakhir ketika aku membuka akun blogger ini. Selain mengusik, hal itu juga menjadi pertanyaan yang ingin aku temukan jawabannya. Adalah, Bagaimana mungkin orang-orang bisa membaca tulisan-tulisanku? Dari pencarian yang mana, mereka bisa sampai di halaman yang isinya hanya omong kosong? Apakah itu sebuah ketidaksengajaan? Atau mungkin saja, sengaja? Dalam setiap tulisanku selama 7 bulan ini, ada beberapa orang yang melihatnya. Jumlahnya tak banyak, bisa dihitung dengan jari tangan kanan.  Memang, aku ingin menjadi penulis yang terkenal. Tapi, rasanya aneh jika ada orang yang membaca tulisanku. Aku? Merasa tidak percaya diri ketika ada orang yang membacanya. Kebiasaanku yang mungkin "buruk" ketika aku menulis adalah aku tidak bisa membaca kembali apa yang sudah aku tulis. Rasa yang aku berikan ketika aku menulis dengan rasa ketika aku telah selesai menulisnya itu sangat berbeda, menurutku. Ada tulisan yang aku buat ket...

Terima Kasih

 Hai kamu... Terima kasih ya... Sudah bertahan sampai detik ini. Terima kasih, telah sampai di detik ini. Terima kasih, kamu masih semangat menjalani hari ini. Pasti tidak mudah kan untuk melewati semua ini, tapi ternyata kamu bisa kuat.  Kamu bisa tetap kokoh berdiri di tengah semua rasa yang menghampirimu. Lelah, sedih, stres,  dan tertekan, semua pernah kamu rasakan. Kamu tahu, siapa musuh terbesarmu? Jawabannya adalah dirimu sendiri. Ketika tidak ada lagi orang-orang yang menjadi lawanmu, kamu harus bisa melawan dirimu sendiri. Kamu harus menghadapi dirimu; ketakutanmu, kemalasanmu, kekhawatiranmu, kecemasanmu, kelelahanmu, keputusasaanmu, dan yang lainnya. Satu kunci yang harus kamu pegang, kamu harus selalu tersenyum. Bagaimanapun keadaannya, kamu yang mencakup jiwamu, hatimu, juga pikiranmu harus seneng. Beban bukan beban jika dilakukan dengan hati yang gembira. Lelah bukan lelah jika dilakukan dengan jiwa yang bahagia. Jalani sepenuh hati.  Jalani dengan kesu...

SENTILAN

          Hariku, hari ini, bukan hanya hari biasa. Mungkinkah sebuah kebetulan? Tapi rasa-rasanya tidak tepat jika disebut dengan kebetulan. Bukankan dalam hidup sudah ada yang mengaturnya? Mengatur jalan hidup(?) Termasuk pertemuan hari ini. Mungkin lebih tepatnya ketidaksengajaan bagiku, tapi sebuah takdir yang telah ditulis oleh Tuhan. Bertemu dan berbincang dengan seseorang yang dari dulu selalu kuanggap "guru". Bukan guru sembarang guru. Namun seorang guru yang selalu berusaha untuk memahami santrinya. Meskipun kedudukannya sekarang sama dan setara, aku tetap menganggapnya guruku.            Obrolan siang tadi bukan obrolan sembarang obrolan. Obrolan yang biasanya hanya "seadanya" dan "sekenanya" karena ada sebuah dinding pemisah meskipun saling berhadapan, berubah menjadi obrolan yang panjang dan penuh makna. Tentunya bagi diriku.            Sebuah sentilan.     ...