Langsung ke konten utama

Saya Cantik!!!


“Perempuan itu cantik sekali...” 
Merupakan salah satu dari sekian banyak ungkapan tentang keindahan yang tertangkap oleh kedua mata. Kata apa yang kiranya pantas untuk menggambarkan makna ‘cantik’? Kata yang sering didengung-dengungkan kapan dan dimana saja untuk memuji keindahan paras perempuan. Dalam masyarakat sekarang ini, cantik sendiri biasanya diidentikkan dengan keelokan wajah perempuan. Ada juga yang mendefinisikan cantik dengan makna suka bersikap menarik perhatian laki-laki; genit; centil. Dan penulis cenderung memilih pendapat yang pada umumnya.
Seberapa sering kita mendengar kata cantik? Seberapa sering kita ingin tampil cantik? Seberapa sering kita ingin dipuji dengan kata cantik? Kenapa harus tampil cantik di depan dan untuk orang lain? Kenapa cantikmu kamu tunjukkan demi penilaian orang lain terhadapmu? Mengapa cantikmu harus butuh pengakuan dari orang lain? Mengapa? Cantik dengan riasan kah? Atau tanpa riasan pun sudah dapat dikatakan cantik? Cantik itu… relatif. Cantik itu nisbi, bergantung kepada yang siapa melihat.
Standar kecantikan menurut masing-masing orang pun berbeda. Jika bertanya kepada seorang yang ahli tentang segala tetek-bengek make-up dan fashion, mereka akan kompak menjawab bahwa cantik itu ketika wajah penuh dengan  pulasan dan sapuan make up, ditambah dengan cocoknya busana yang melekat pada tubuh seseorang. Berbeda dengan seorang fotografer yang gandrung akan keindahan alam yang lebih condong ke kesan natural, maka ia akan menjawab bahwa cantik itu jika apa yang ada di dalam diri kita dan apa yang tampak dari luar sesuai dengan apa yang diinginkan alam. Kulit hitam manis khas orang dari Benua Afrika, kulih putih bersih khas orang dari daratan Eropa, dan kuning langsat khas orang yang hidup di kawasan Asia. Cantik yang tidak dibuat-buat, cantik yang sudah melekat sejak individu itu lahir. Standar kecantikan dalam dunia model pun juga berbeda, yaitu yang memiliki tubuh tinggi, langsing, ramping, melenggang indah di atas catwalk dengan kaki jenjangnya saat fashion show, pandai bergaya saat di depan kamera, dan tentunya menarik setiap pasang mata yang memandangnya.
Make-up tebal dengan berbagai macam warna, berbagai macam merk, berbagai macam jenis produk, berbagai macam alat yang digunakan, semuanya melekat pada wajah kita setiap hari. Berapa banyak waktu yang telah kita keluarkan untuk memasang topeng wajah tersebut? Iya, penulis lebih ingin menyebutnya sebagai topeng, topeng yang menutupi kecantikan alami dari dalam diri sendiri. “Make-up diperuntukkan bagi perempuan-perempuan yang beranjak jelek, atau tepatnya merasa jelek. Bagi mereka itulah patut ada usaha ekstra.” Begitulah kalimat yang penulis kutip dalam salah satu novel karya Dee Lestari. Penulis sangat setuju dengan pendapat seorang tokoh di novel tersebut. Sebenarnya sejak lahir, sebagai perempuan telah melekat pada diri kita tentang apa yang dinamakan cantik itu sendiri. Dan setiap perempuan dapat menanamkan pada dirinya sendiri, terutama ketika di depan cermin dengan mengatakan, “saya cantik, saya cantik, saya cantik.” Mantra yang sangat ampuh untuk meningkatkan kepercayaan diri dan menjamin diri sendiri tampil cantik tanpa peduli cantik kata orang lain. Cantik yang hanya mengharapkan pujian dari diri sendiri. Tidak boleh ada yang mengingkari siapapun itu, bahwa setiap perempuan berhak merasa dirinya itu cantik.
“Diantara semua orang yang mengejeknya aneh dan jelek, hanya satu yang sanggup berkata lain. Dirinya sendiri. Dan, lihatlah ia kini. Ini bukan hasil pujian kiri kanan, melainkan usahanya sendiri untuk tahu dirinya cantik. Tahu tanpa banyak usaha lagi. Semua tumbuh dengan sendirinya.” Lanjut sang tokoh yang bernama Diva, yang dulu tubuh tingginya seceking kelingking, badannya yang ketika remaja sudah membentuk kurva-kurva  ketika tubuh teman-temannya masih kotak, rambut yang lurus dan membosankan, wajah tirusnya yang seperti orang kelaparan, dan kakinya yang terlalu panjang.
Tidak usah khawatir dengan ejekan orang-orang yang ada di sekitar tentang dirimu, tentang penampilanmu. Tak hanya satu dua orang, mungkin banyak orang berkata bahwa kamu jelek, kamu buruk rupa, dan sebagainya. Tapi percayalah, hinaan dan cacian itu akan pergi dengan sendirinya seiring kamu mengacuhkan dan menganggapnya angin lalu. Masa bodoh dengan perkataan orang yang menjatuhkan. Saya tetap cantik kata diriku sendiri.
Terkadang menjadi dewasa itu membosankan. Iya sangat membosankan. Ada saat-saat dimana diri sendiri ingin kembai ke zaman kanak-kanak yang tidak mempunyai beban hidup, yang riang gembira bermain, yang masih terlalu polos untuk mengenal apa itu dunia. Dan menjadi dewasa itu sangat melelahkan jika kita terlalu sibuk memikirkan penilaian orang terhadap kita, terlalu menganggap berlebihan apa yang dipikirkan orang lain tentang kita. Padahal sebenarnya mereka itu belum tentu peduli dengan kita. Pesan khusus dari penulis, tetaplah menjadi cantik dengan apa adanya dirimu. Dirimu sendirilah yang memegang kunci penting tentang cantik atau tidaknya dirimu.
Sekian…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIAPA PUN

Sejujurnya, ada hal yang mengusik pikiranku selama 7 bulan terakhir ketika aku membuka akun blogger ini. Selain mengusik, hal itu juga menjadi pertanyaan yang ingin aku temukan jawabannya. Adalah, Bagaimana mungkin orang-orang bisa membaca tulisan-tulisanku? Dari pencarian yang mana, mereka bisa sampai di halaman yang isinya hanya omong kosong? Apakah itu sebuah ketidaksengajaan? Atau mungkin saja, sengaja? Dalam setiap tulisanku selama 7 bulan ini, ada beberapa orang yang melihatnya. Jumlahnya tak banyak, bisa dihitung dengan jari tangan kanan.  Memang, aku ingin menjadi penulis yang terkenal. Tapi, rasanya aneh jika ada orang yang membaca tulisanku. Aku? Merasa tidak percaya diri ketika ada orang yang membacanya. Kebiasaanku yang mungkin "buruk" ketika aku menulis adalah aku tidak bisa membaca kembali apa yang sudah aku tulis. Rasa yang aku berikan ketika aku menulis dengan rasa ketika aku telah selesai menulisnya itu sangat berbeda, menurutku. Ada tulisan yang aku buat ket...

Terima Kasih

 Hai kamu... Terima kasih ya... Sudah bertahan sampai detik ini. Terima kasih, telah sampai di detik ini. Terima kasih, kamu masih semangat menjalani hari ini. Pasti tidak mudah kan untuk melewati semua ini, tapi ternyata kamu bisa kuat.  Kamu bisa tetap kokoh berdiri di tengah semua rasa yang menghampirimu. Lelah, sedih, stres,  dan tertekan, semua pernah kamu rasakan. Kamu tahu, siapa musuh terbesarmu? Jawabannya adalah dirimu sendiri. Ketika tidak ada lagi orang-orang yang menjadi lawanmu, kamu harus bisa melawan dirimu sendiri. Kamu harus menghadapi dirimu; ketakutanmu, kemalasanmu, kekhawatiranmu, kecemasanmu, kelelahanmu, keputusasaanmu, dan yang lainnya. Satu kunci yang harus kamu pegang, kamu harus selalu tersenyum. Bagaimanapun keadaannya, kamu yang mencakup jiwamu, hatimu, juga pikiranmu harus seneng. Beban bukan beban jika dilakukan dengan hati yang gembira. Lelah bukan lelah jika dilakukan dengan jiwa yang bahagia. Jalani sepenuh hati.  Jalani dengan kesu...

SENTILAN

          Hariku, hari ini, bukan hanya hari biasa. Mungkinkah sebuah kebetulan? Tapi rasa-rasanya tidak tepat jika disebut dengan kebetulan. Bukankan dalam hidup sudah ada yang mengaturnya? Mengatur jalan hidup(?) Termasuk pertemuan hari ini. Mungkin lebih tepatnya ketidaksengajaan bagiku, tapi sebuah takdir yang telah ditulis oleh Tuhan. Bertemu dan berbincang dengan seseorang yang dari dulu selalu kuanggap "guru". Bukan guru sembarang guru. Namun seorang guru yang selalu berusaha untuk memahami santrinya. Meskipun kedudukannya sekarang sama dan setara, aku tetap menganggapnya guruku.            Obrolan siang tadi bukan obrolan sembarang obrolan. Obrolan yang biasanya hanya "seadanya" dan "sekenanya" karena ada sebuah dinding pemisah meskipun saling berhadapan, berubah menjadi obrolan yang panjang dan penuh makna. Tentunya bagi diriku.            Sebuah sentilan.     ...