Langsung ke konten utama

Postingan

Surat Diri #3

Jam-jam rawan overthinking, pukul 23.21 WIB. Sudah mendekati tengah malam dan juga sudah waktunya untuk merehatkan tubuh setelah seharian beraktivitas. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan kata "overthinking".  Yah... Kata yang membuat sebagian bahkan kebanyakan orang berpikiran yang berlebihan tentang sesuatu yang belum maupun yang tidak akan terjadi. Kata yang juga membuat orang-orang memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu untuk dipikirkan. Karena, pada dasarnya hal-hal tersebut tidak ada sangkut pautnya, tidak ada kaitannya dengan dirinya.  Perlu contoh? Memikirkan kehidupan artis yang kontennya lewat di beranda sosial media kita, memikirkan bagaimana kayanya ia, memikirkan bagaimana kesehariannya, dan yang lainnya. Itu adalah sesuatu yang sebenarnya tidak perlu untuk dipikirkan. Kasarnya, mereka saja tidak tahu kalau kita hidup dan bernafas, lantas untuk apa kita repot-repot memikirkan mereka? Memang terkadang pikiran seperti itu, random, tidak jelas, dan ter...

Surat Diri #2

Kembali ke kota perantauan, rasanya seperti kembali ke hiruk pikuk pikiran, perasaan dan beban.      Kembali pula ke kesendirian yang terkadang terasa membosankan. Dan terkadang juga begitu menyesakkan. Beberapa hari dekat dengan sahabat, membuatku berpikir banyak hal. Merasa kebersamaanku tidak akan berakhir dengannya. Merasa duniaku akan baik-baik saja jika bisa selalu dekat dengannya. Merasa aku jauh lebih kuat jika ada dia di sampingku. Namun, itu hanyalah semu. Dia punya jalan yang harus ia lalui. Ia punya cerita yang harus ia selesaikan. Dunianya bukan hanya tentang dan bersamaku. Dia punya kehidupan lain yang tidak bisa aku sentuh, tidak bisa aku raih.  Memang benar... Kita tidak bisa melihat sesuatu hanya dari satu sisi saja. Dunia punya sisi lainnya. Masalahmu juga memiliki sisi yang lain, bukan hanya terdapat sisi buruknya saja. Bukankah Tuhan telah menciptakan sesuatu secara seimbang? Positif-negatif? Besar-kecil? Utara-selatan? Naik-turun? Tuhan ingin kam...

Surat Diri #1

Apa yang kamu syukuri hari ini? Mungkin hariku hari ini berjalan biasa saja. Sama seperti hari-hariku sebelumnya. Ingin memaksa diri sendiri untuk melewati hari-hari dengan lebih baik daripada hariku kemarin. Tapi hasilnya selalu sama. Sama saja. Kenapa begini?  Sebenarnya lelah dengan diri sendiri. Sudah sangat lelah dengan kemalasan diri. Sudah begitu bosan dengan kebobrokan diri.  Memuakkan.  Overthinking tentang banyak hal. Pendidikan, pertemanan, percintaan, keluarga, dan hal lainnya. Kok rasanya menyesakkan ya... Saat punya banyak impian dan tujuan, tapi tidak tahu harus ngapain. Bisanya hanya memikirkannya. Tanpa tahu harus berbuat apa untuk mencapainya. "Selama kita hidup, apapun bisa diubah." Karena setiap orang punya masalahnya sendiri, setiap orang punya cobaan hidupnya sendiri. Tidak sama satu sama lain.  Jalan menuju kesuksesannya pun juga berbeda-beda. Ada yang dengan mudah menemukannya. Dan ada pula melalui proses panjang dan berliku-liku untuk bisa...

Dua Orang = Dua Kaki

Aku pernah ada, namun kau sia-siakan. Aku pernah hadir, namun tidak pernah kau anggap. Aku pernah menemani, namun tak pernah terlihat olehmu. Aku pernah peduli, namun tak pernah kau hargai. Lantas apa yang aku tunggu darimu? Apa yang pantas aku nantikan dari dirimu? Rasanya seperti tidak adil. Mengapa harus aku yang berjuang sendirian? Sedangkan kamu masih sibuk dengan dirimu sendiri. Hubungan macam apa ini? Jika hanya sebelah pihak yang berjuang? Bukankah akan cacat? Ibarat hanya sebelah kaki yang melangkah dan kaki yang sebelahnya hanya diam saja tidak bergerak. Sekeras apapun aku berusaha untuk membuatmu bergerak, bukankah terasa sia-sia jika kamu tidak mau bergerak dengan kemauanmu sendiri? Satu pihak yang terus menahan dan menopang. Satu pihak hanya sebagai "beban" tambahan yang justru memberatkan. Dua orang = Dua kaki Ketika kita melangkah, kita memang tidak sejajar. Namun kita saling melengkapi untuk segera sampai di tujuan. Bukankah kita akan bersama ketika kita sedan...

Vanilla Latte dan Singkong BBQ

17 April 2022         Di sebuah kedai kopi yang letaknya agak masuk ke lorong dari jalan besar. Aku berjalan pelan untuk ke dalamnya. Cukup strategis kupikir. Karena jalan besar tersebut tidak pernah sepi dari hilir-mudik kendaraan. Jalan yang ketika sudah melewati tengah malam, rasa-rasanya sangat sepi. Hanya sedikit pengendara yang berani melewatinya.              Kafe yang cukup nyaman jika hanya untuk sekedar bersantai dan menghabiskan waktu. Meskipun ramai pengunjung, sebenarnya keadaan sekitarnya cukup sepi. Di belakang kampus besar, di tengah sawah dan agak berjarak dengan rumah penduduk. Yah... Kafe yang menjadi favoritku beberapa bulan ini. Di sinilah aku berada. Di ujungnya. Menghadap ke kegelapan malam.  Aku sampai disini ketika waktu berbuka puasa telah tiba. Kurang 10 menit lagi.         Yang niatnya awal aku mengunjungi tempat ini adalah ingin menikmati senja, namun ternyata haru...

Cerita Malam

 Hai... Ini adalah cerita tentang malamku Tidak seru Tidak lucu Tidak menghibur Tidak membawa manfaat Tapi aku akan tetap akan bercerita sepanjang tulisanku ini Tolong  dimengerti Aku hanya ingin menulis Menulis tentang apa yang aku rasakan dan kepada rasa ini tertuju Apakah aku sedang kasmaran? Tidak tahu. Sebenarnya aku pun bingung Mungkin butuh waktu untuk memastikan perasananku sendiri kepadanya Engkau jauh. Tak tergapai...  Rindu? Bisakah rindu? Bukankah rindu harus didahului oleh sebuah pertemuan? Sedangkan kita? Belum pernah bertemu sama sekali. Mungkin aku akan menantikan masa perjumpaan denganmu. Entah kapan itu akan terjadi. Atau pertemuan kita tidak akan pernah terjadi? Biasanya kita hanya bertemu via pesan WhatsApp dan  video call Duo. Tidak lebih dari itu.  Haha... Aneh ya kita... Iya kita. "Baper kok lewat ketikan." Kalau dipikir, iya juga ya.... Baper kok lewat ketikan. Kata baper -nya juga diketik. Bilang sayang dan cinta, juga lewat ketikan. Tap...

TATAPAN

Kulihat sekali lagi padamu Kutatap mata indahmu Bukan tanpa maksud dalam setiap tatapan yang kuberikan Bukan tatapan kosong tanpa makna Namun, ingin kusalurkan semua rasa yang telah menguasai diriku Hanya ingin kupastikan saja Apakah dalam sorot matamu ada aku di dalamnya Adakah ketulusan cinta yang hadir untuk diriku Entahlah.. Tatapanmu bukan tatapan yang biasa kamu berikan Tatapanmu terlalu sulit untuk kuterjemahkan Boleh jadi tiada kata yang mampu untuk mewakilinya Tiada ku mengerti artinya Satu hal yang dapat kupastikan Tatapan itu berbeda Biarlah itu menjadi misteri  Yang tabirnya akan terungkap dengan sendirinya