Langsung ke konten utama

Hari Aku Memilih Berhenti

Hai... 
Hari ini adalah hari ulang tahunku. 
Hari yang spesial bagiku karena genap 26 tahun aku menjalani hidup. 
Di hari ini juga, aku membuat sebuah keputusan. Keputusan yang sebenarnya sudah kupikirkan sejak tahun lalu, tetapi berkali-kali masih kutanyakan kembali kepada diriku sendiri. Hari ini, akhirnya aku memilih untuk mengakhiri episode mengagumimu. Aku memutuskan untuk berhenti menyukaimu, berhenti mengharapkanmu, dan melepaskan semua perasaan yang selama ini kusimpan. Bukan karena kamu melakukan kesalahan, bukan pula karena aku membencimu. Justru sebaliknya. Aku hanya merasa bahwa ini adalah keputusan yang paling baik untuk diriku sendiri. Sudah waktunya aku berhenti mengejar sesuatu yang memang bukan untukku. 

Terima kasih karena pernah menjadi seseorang yang membuatku memiliki perasaan yang begitu tulus.
Terima kasih atas setiap nasihat yang pernah kamu berikan. Terima kasih karena, tanpa kamu sadari, kamu pernah mendorongku untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berani mencoba hal-hal baru. Terima kasih juga untuk setiap sapaan sederhana dalam setiap pertemuan kita. Aku bersyukur atas setiap pertemuan yang semesta izinkan terjadi. Mungkin semuanya tampak biasa bagimu, tetapi bagiku setiap pertemuan selalu menjadi sesuatu yang layak dinantikan. Terima kasih karena pernah menjadi alasan mengapa aku menunggu hari-hari tertentu datang.

Aku tidak menyesali pernah menyukaimu. Perasaan itu mengajarkanku banyak hal tentang menghargai seseorang, tentang menerima kenyataan, dan tentang belajar mengikhlaskan. 

Semoga semua urusanmu selalu dimudahkan, semoga kamu sehat, bahagia, dan menemukan segala hal baik yang kamu cari dalam hidup. Tidak perlu merasa bersalah ataupun membalas pesan ini. Aku tidak mengharapkan apa pun. Aku hanya ingin menutup perasaanku dengan baik, agar aku juga bisa melangkah dengan tenang. 

Ada satu hal yang mungkin lucu. "Jakarta Hari Ini" dan "Serana", ternyata pada akhirnya menjadi lagu yang paling menggambarkan perasaanku. 

Hari ini, di usiaku yang ke-26, aku memilih untuk melepaskanmu. 
Terima kasih untuk semuanya, dan sampai di sini. 
Jaga dirimu baik-baik.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIAPA PUN

Sejujurnya, ada hal yang mengusik pikiranku selama 7 bulan terakhir ketika aku membuka akun blogger ini. Selain mengusik, hal itu juga menjadi pertanyaan yang ingin aku temukan jawabannya. Adalah, Bagaimana mungkin orang-orang bisa membaca tulisan-tulisanku? Dari pencarian yang mana, mereka bisa sampai di halaman yang isinya hanya omong kosong? Apakah itu sebuah ketidaksengajaan? Atau mungkin saja, sengaja? Dalam setiap tulisanku selama 7 bulan ini, ada beberapa orang yang melihatnya. Jumlahnya tak banyak, bisa dihitung dengan jari tangan kanan.  Memang, aku ingin menjadi penulis yang terkenal. Tapi, rasanya aneh jika ada orang yang membaca tulisanku. Aku? Merasa tidak percaya diri ketika ada orang yang membacanya. Kebiasaanku yang mungkin "buruk" ketika aku menulis adalah aku tidak bisa membaca kembali apa yang sudah aku tulis. Rasa yang aku berikan ketika aku menulis dengan rasa ketika aku telah selesai menulisnya itu sangat berbeda, menurutku. Ada tulisan yang aku buat ket...

Terima Kasih

 Hai kamu... Terima kasih ya... Sudah bertahan sampai detik ini. Terima kasih, telah sampai di detik ini. Terima kasih, kamu masih semangat menjalani hari ini. Pasti tidak mudah kan untuk melewati semua ini, tapi ternyata kamu bisa kuat.  Kamu bisa tetap kokoh berdiri di tengah semua rasa yang menghampirimu. Lelah, sedih, stres,  dan tertekan, semua pernah kamu rasakan. Kamu tahu, siapa musuh terbesarmu? Jawabannya adalah dirimu sendiri. Ketika tidak ada lagi orang-orang yang menjadi lawanmu, kamu harus bisa melawan dirimu sendiri. Kamu harus menghadapi dirimu; ketakutanmu, kemalasanmu, kekhawatiranmu, kecemasanmu, kelelahanmu, keputusasaanmu, dan yang lainnya. Satu kunci yang harus kamu pegang, kamu harus selalu tersenyum. Bagaimanapun keadaannya, kamu yang mencakup jiwamu, hatimu, juga pikiranmu harus seneng. Beban bukan beban jika dilakukan dengan hati yang gembira. Lelah bukan lelah jika dilakukan dengan jiwa yang bahagia. Jalani sepenuh hati.  Jalani dengan kesu...

SENTILAN

          Hariku, hari ini, bukan hanya hari biasa. Mungkinkah sebuah kebetulan? Tapi rasa-rasanya tidak tepat jika disebut dengan kebetulan. Bukankan dalam hidup sudah ada yang mengaturnya? Mengatur jalan hidup(?) Termasuk pertemuan hari ini. Mungkin lebih tepatnya ketidaksengajaan bagiku, tapi sebuah takdir yang telah ditulis oleh Tuhan. Bertemu dan berbincang dengan seseorang yang dari dulu selalu kuanggap "guru". Bukan guru sembarang guru. Namun seorang guru yang selalu berusaha untuk memahami santrinya. Meskipun kedudukannya sekarang sama dan setara, aku tetap menganggapnya guruku.            Obrolan siang tadi bukan obrolan sembarang obrolan. Obrolan yang biasanya hanya "seadanya" dan "sekenanya" karena ada sebuah dinding pemisah meskipun saling berhadapan, berubah menjadi obrolan yang panjang dan penuh makna. Tentunya bagi diriku.            Sebuah sentilan.     ...