Langsung ke konten utama

Dua Orang = Dua Kaki

Aku pernah ada, namun kau sia-siakan.

Aku pernah hadir, namun tidak pernah kau anggap.

Aku pernah menemani, namun tak pernah terlihat olehmu.

Aku pernah peduli, namun tak pernah kau hargai.

Lantas apa yang aku tunggu darimu?

Apa yang pantas aku nantikan dari dirimu?

Rasanya seperti tidak adil. Mengapa harus aku yang berjuang sendirian?

Sedangkan kamu masih sibuk dengan dirimu sendiri.

Hubungan macam apa ini?

Jika hanya sebelah pihak yang berjuang?

Bukankah akan cacat?

Ibarat hanya sebelah kaki yang melangkah dan kaki yang sebelahnya hanya diam saja tidak bergerak.

Sekeras apapun aku berusaha untuk membuatmu bergerak, bukankah terasa sia-sia jika kamu tidak mau bergerak dengan kemauanmu sendiri?

Satu pihak yang terus menahan dan menopang. Satu pihak hanya sebagai "beban" tambahan yang justru memberatkan.

Dua orang = Dua kaki

Ketika kita melangkah, kita memang tidak sejajar.

Namun kita saling melengkapi untuk segera sampai di tujuan.

Bukankah kita akan bersama ketika kita sedang berhenti dan beristirahat?

Dua kaki yang "saling",

Saling melengkapi

Saling menemani

Saling membantu

Saling menguatkan

Saling membutuhkan

Terasa indah kedengarannya.

Semoga bisa kita menjadi diri sendiri untuk dapat melengkapi satu sama lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIAPA PUN

Sejujurnya, ada hal yang mengusik pikiranku selama 7 bulan terakhir ketika aku membuka akun blogger ini. Selain mengusik, hal itu juga menjadi pertanyaan yang ingin aku temukan jawabannya. Adalah, Bagaimana mungkin orang-orang bisa membaca tulisan-tulisanku? Dari pencarian yang mana, mereka bisa sampai di halaman yang isinya hanya omong kosong? Apakah itu sebuah ketidaksengajaan? Atau mungkin saja, sengaja? Dalam setiap tulisanku selama 7 bulan ini, ada beberapa orang yang melihatnya. Jumlahnya tak banyak, bisa dihitung dengan jari tangan kanan.  Memang, aku ingin menjadi penulis yang terkenal. Tapi, rasanya aneh jika ada orang yang membaca tulisanku. Aku? Merasa tidak percaya diri ketika ada orang yang membacanya. Kebiasaanku yang mungkin "buruk" ketika aku menulis adalah aku tidak bisa membaca kembali apa yang sudah aku tulis. Rasa yang aku berikan ketika aku menulis dengan rasa ketika aku telah selesai menulisnya itu sangat berbeda, menurutku. Ada tulisan yang aku buat ket...

Terima Kasih

 Hai kamu... Terima kasih ya... Sudah bertahan sampai detik ini. Terima kasih, telah sampai di detik ini. Terima kasih, kamu masih semangat menjalani hari ini. Pasti tidak mudah kan untuk melewati semua ini, tapi ternyata kamu bisa kuat.  Kamu bisa tetap kokoh berdiri di tengah semua rasa yang menghampirimu. Lelah, sedih, stres,  dan tertekan, semua pernah kamu rasakan. Kamu tahu, siapa musuh terbesarmu? Jawabannya adalah dirimu sendiri. Ketika tidak ada lagi orang-orang yang menjadi lawanmu, kamu harus bisa melawan dirimu sendiri. Kamu harus menghadapi dirimu; ketakutanmu, kemalasanmu, kekhawatiranmu, kecemasanmu, kelelahanmu, keputusasaanmu, dan yang lainnya. Satu kunci yang harus kamu pegang, kamu harus selalu tersenyum. Bagaimanapun keadaannya, kamu yang mencakup jiwamu, hatimu, juga pikiranmu harus seneng. Beban bukan beban jika dilakukan dengan hati yang gembira. Lelah bukan lelah jika dilakukan dengan jiwa yang bahagia. Jalani sepenuh hati.  Jalani dengan kesu...

SENTILAN

          Hariku, hari ini, bukan hanya hari biasa. Mungkinkah sebuah kebetulan? Tapi rasa-rasanya tidak tepat jika disebut dengan kebetulan. Bukankan dalam hidup sudah ada yang mengaturnya? Mengatur jalan hidup(?) Termasuk pertemuan hari ini. Mungkin lebih tepatnya ketidaksengajaan bagiku, tapi sebuah takdir yang telah ditulis oleh Tuhan. Bertemu dan berbincang dengan seseorang yang dari dulu selalu kuanggap "guru". Bukan guru sembarang guru. Namun seorang guru yang selalu berusaha untuk memahami santrinya. Meskipun kedudukannya sekarang sama dan setara, aku tetap menganggapnya guruku.            Obrolan siang tadi bukan obrolan sembarang obrolan. Obrolan yang biasanya hanya "seadanya" dan "sekenanya" karena ada sebuah dinding pemisah meskipun saling berhadapan, berubah menjadi obrolan yang panjang dan penuh makna. Tentunya bagi diriku.            Sebuah sentilan.     ...