Langsung ke konten utama

Postingan

Aku

Lebih baik sendiri ya? Memikirkan dan fokus ke diri sendiri dulu... Bilang kangen pun juga tidak ada respon Seperti bercerita kepada dinding yang dingin Ia tetap diam dan membisu Beku bagaimana pun keadaan di sekitarnya Ia akan kekeh menjadi dirinya yang tanpa pengaruh apapun Tidak peduli dengan orang di sekitarnya Mau dipaksakan juga ia akan tetap seperti itu Diubah dengan berbagai cara pun tak akan mempan Yang mampu mengubahnya ya dirinya sendiri Ya ya ya.... Apa yang aku rasakan mungkin lebih baiknya tidak pernah diungkap Apa gunanya diungkapkan jika yang terjadi hanya pengabaian? Buang-buang waktu saja kan? Hahahaha lucu... Aku mencintai seseorang yang perhatiannya tidak pernah ada untukku Meskipun aku tahu, dia juga mencintaiku Tapi apa benar seperti itu? Atau hanya aku yang terlalu berlebihan menganggapnya juga mencintaiku? Dasar perempuan, semuanya didasarkan pada perasaan Padahal yang hanya memiliki perasaan hanya dirimu, belum tentu juga dirinya.

Rindu Sajak

Hai angin... Kau terlalu kencang berhembus Dingin yang kau bawa terasa menusuk tulang Namun hangat menembus sanubari Membuat diri bergetar begitu hebat merasakan apa yang telah Tuhanku ciptakan Tentang diri dan apa yang mengelilingi Jagat raya menjadi saksi  Betapa kecilnya diri ini Tak sanggup bangkit tanpa ada yang entitas yang menggerakkan Bersyukur masih diberi kekuatan untuk menjalani hari demi hari Hingga akhir nanti

Surat Diri #4

Apakah selama ini aku yang terlalu egois?  Apakah selama ini justru aku yang paling tidak mengerti dirimu? Apakah selama ini aku yang selalu menuntut ini dan itu darimu? Sepertinya iya. Itulah yang aku rasakan saat ini. Aku merasa sangat bodoh sekali, berkali-kali bilang lelah dengan dirimu juga lelah dengan sikapmu.  Tapi selama itu pula, kamu tidak pernah mengatakan hal yang serupa. Kamu hanya diam, mendiamkan aku lebih tepatnya. Mendiamkan aku dengan pikiranku sendiri, dengan overthinkingku tentunya. Sejauh ini, aku merasa sebagai orang yang sangat sabar dalam menghadapimu.  Tapi kenyataannya, kamu yang selalu sabar dalam menghadapi diriku, keras kepalaku juga bawelku. Doaku  masih tetap sama untukmu. Justru rinduku yang setiap hari semakin besar. Entah sampai kapan ia akan memenuhi perasaanku.  Rindu? Ah, sepertinya hanya perasaanku saja. Bagaimana aku bisa membebaskan diriku dari rasa itu? Pertemuan? Tentunya akan menimbulkan efek rindu berikutnya. Aku ingi...

Hubungan Yang Dingin

 Sekarang, semenjak kejadian itu... Hubungan kita semakin hambar. Percakapan menjadi lebih canggung daripada biasanya. Sikapmu menjadi lebih dingin daripada sikapmu yang dulu. Di saat hubungan kita mulai membaik beberapa bulan, mengapa ada kejadian seperti ini? Aku tahu, ini semua berawal dari kebodohanku. Aku menjadi penyebab dari kejadian itu. Aku pun juga tidak pernah menyangka akan terjadi seperti ini. Mungkin benar katamu, ini ujian. Ujian untuk dirimu, hidupmu, dan hubungan kita. Aku tidak berpikir bahwa hubungan kita semakin renggang. Bukan. Bukan seperti itu. Rasa bersalahku bakal terus ada sampai kapan pun.  Meskipun aku telah menggantinya pun, tak akan pernah mengembalikan semuanya seperti itu. Termasuk dengan mengembalikan sikapmu kepadaku. Aku pun bingung, apa yang aku lakukan sekarang untuk menebus kesalahanku padamu? Sekedar untuk menanyakan kabarmu saja aku terlalu takut. Inginku bertemu denganmu. Sungguh, aku sangat ingin berjumpa denganmu. Mengobati rasa rindu...

Hari Sedih

 Aku tahu, hari ini akan terjadi Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa bakal terjadi secepat ini.  Aku berpikir bahwa esok, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan ketika aku berkunjung, aku masih bisa melihatmu, mencium tanganmu, bercengkerama denganmu. Tapi ternyata aku salah.  Engkau pergi dalam diam.  Tanpa sepatah kata pun terucap sebagai tanda perpisahan.  Tiada yang tahu kapan hembusan nafas terakhirmu, termasuk anak dan cucumu.  Engkau meninggalkan kami ketika kami sedang lengah, tertidur sejenak ketika menjagamu.  Tanpa aba-aba, ruhmu terlepas dari jasadmu dengan sangat halus. Hingga tiada orang yang mendengarnya. Aku masih terus bertanya,  Mengapa secepat ini? Mengapa engkau pergi ketika aku jauh darimu? Mengapa? Aku sangat sedih, merasakan kehilangan seseorang seperti dirimu. Meskipun kita jarang bertemu, namun aku sangat menyayangimu. Inginku tidak bersedih, tapi ternyata mataku terus menerus mengeluarkan air mata. Tanpa aku minta....

Surat Diri #3

Jam-jam rawan overthinking, pukul 23.21 WIB. Sudah mendekati tengah malam dan juga sudah waktunya untuk merehatkan tubuh setelah seharian beraktivitas. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan kata "overthinking".  Yah... Kata yang membuat sebagian bahkan kebanyakan orang berpikiran yang berlebihan tentang sesuatu yang belum maupun yang tidak akan terjadi. Kata yang juga membuat orang-orang memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu untuk dipikirkan. Karena, pada dasarnya hal-hal tersebut tidak ada sangkut pautnya, tidak ada kaitannya dengan dirinya.  Perlu contoh? Memikirkan kehidupan artis yang kontennya lewat di beranda sosial media kita, memikirkan bagaimana kayanya ia, memikirkan bagaimana kesehariannya, dan yang lainnya. Itu adalah sesuatu yang sebenarnya tidak perlu untuk dipikirkan. Kasarnya, mereka saja tidak tahu kalau kita hidup dan bernafas, lantas untuk apa kita repot-repot memikirkan mereka? Memang terkadang pikiran seperti itu, random, tidak jelas, dan ter...

Surat Diri #2

Kembali ke kota perantauan, rasanya seperti kembali ke hiruk pikuk pikiran, perasaan dan beban.      Kembali pula ke kesendirian yang terkadang terasa membosankan. Dan terkadang juga begitu menyesakkan. Beberapa hari dekat dengan sahabat, membuatku berpikir banyak hal. Merasa kebersamaanku tidak akan berakhir dengannya. Merasa duniaku akan baik-baik saja jika bisa selalu dekat dengannya. Merasa aku jauh lebih kuat jika ada dia di sampingku. Namun, itu hanyalah semu. Dia punya jalan yang harus ia lalui. Ia punya cerita yang harus ia selesaikan. Dunianya bukan hanya tentang dan bersamaku. Dia punya kehidupan lain yang tidak bisa aku sentuh, tidak bisa aku raih.  Memang benar... Kita tidak bisa melihat sesuatu hanya dari satu sisi saja. Dunia punya sisi lainnya. Masalahmu juga memiliki sisi yang lain, bukan hanya terdapat sisi buruknya saja. Bukankah Tuhan telah menciptakan sesuatu secara seimbang? Positif-negatif? Besar-kecil? Utara-selatan? Naik-turun? Tuhan ingin kam...