Langsung ke konten utama

Postingan

HIDUP

Empat bulan telah berlalu. Rasanya seperti aku lupa tidak menengok "rumah" yang dulu sering aku kunjungi hampir setiap hari, meninggalkan jejak melalui tulisan tanpa arti. Aku kembali, di satu hari di penghujung November. Benar, lima hari lagi akan berganti menjadi Desember. Bagaimana kabarku yang sekarang? Tentunya aku baik-baik saja. Kamu dapat mengetahui itu dari kata-kata yang aku susun dalam episode ini.  Sudah 2,5 bulan, aku berada di tempat yang "baru", tempat yang aku cita-citakan sejak dahulu. Rasanya masih seperti mimpi 7 tahun yang lalu. Ternyata, banyak cara pandang yang berubah, banyak hal baru yang harus dicoba, banyak perasaan yang harus dirasakan, banyak kegiatan yang harus dijalani, banyak tugas yang harus diselesaikan, banyak teori dan materi yang harus dipelajari, banyak orang yang harus ditemui untuk membangun koneksi, dan banyak lagi yang lainnya. Aku tidak terlalu berpikir berlebihan lagi tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Mencoba men...

LAMA

Selamat malam wahai diriku sendiri... Telah lama dirimu tidak menuangkan apa yang ada dalam pikiranmu ke dalam bentuk kata-kata pada media yang dahulu hampir setiap hari kamu kunjungi. Tulisan terakhir bertanggal 5 Mei 2024 tentang sebuah novel berjudul Di Tanah Lada.  Dua pekan kemudian, aku melakukan perjalanan dalam rangka "menenangkan diri" (anggap saja seperti itu). Dari perjalanan yang hanya berlangsung 3 hari, tak kusangka membawa dampak yang cukup kuat dalam diriku sendiri. Entah karena tempat yang kukunjungi atau pun orang-orang yang kutemui selama perjalanan, aku tidak tahu hal itu. Perjalanan tersebut membawa perubahan dalam diriku terutama emosionalku.  Entah mengapa, aku menemukan semangat dan motivasi baru. Tidak seperti sebelumnya, energi positif lebih mendominasi daripada emosi negatif untuk saat ini. Jika dahulu, tanpa ada sebab yang jelas, aku bisa tiba-tiba merasakan sedih dan beberapa kali hingga menangis. Stres? Mungkin hal tersebut benar. Setelah pulang ...

Di Tanah Lada

Di Tanah Lada, novel karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie merupakan buku ke-40 yang telah aku baca. Novel yang bukan sembarang novel, menurutku. Rasa penasaranku sejak 4 tahun lalu telah terjawab sudah. Hampir tiga tahun aku menambahkan novel Di Tanah Lada ke dalam antrean bukuku di aplikasi iPusnas. Banyak orang yang merekomendasikan novel itu dan banyak orang dari mereka pula yang merasa tidak terima tentang bagaimana akhir dari ceritanya, membuatku keinginanku untuk membacanya semakin besar.  Bagaimana perasaanku ketika membacanya? Di mulai dari bagian awal cerita, di mana aku berkenalan dengan seorang anak perempuan berusia enam tahun yang belum kuketahui siapa namanya. Dia bercerita tentang kematian salah satu orang yang ia sayangi, kakeknya. Sejak awal, aku tidak memiliki ekspektasi bahwa penulis akan menyajikan kisah yang membuat pembacanya berbunga-bunga, merasa bahagia. Aku telah merasakan kesedihan ketika baru saja aku membaca bab pertamanya. Dan bisa ditebak bahwa selama...

CERITA

Lama sekali aku tidak menulis. Rasa-rasanya, banyak cerita yang dapat aku tuangkan setiap hari dalam sebuah tulisan. Tapi ternyata itu hanya cerita yang tersimpan dalam pikiranku dan tidak pernah aku luapkan. Dari banyaknya faktor yang menyebabkannya, rasa "malas" tetap menjadi yang utama. Aku tidak bisa berkata bahwa aku memiliki kesibukan yang menyita waktuku. Selama ini kesibukanku masih dalam batas rendah. Bukan kesibukan repetitif yang berulang setiap harinya hingga menguras energi yang ada di dalam diriku. Mari kita lanjutkan cerita yang sering tertunda.  Tokoh utama yang ada di dalam ceritaku masih tetap aku. Bukan orang lain. Hari ini, hari ke-6 aku menjadi seorang guru Raudhatul Athfal. Entah secara resmi atau tidak aku diterima sebagai guru, aku merasa baik-baik saja, untuk sementara ini. Itu tidak terlalu penting. Sedari awal aku memutuskan, tanpa ada kalimat terucap kepada orang lain bahwa "aku ingin menjadi guru". Kalimat itu hanya ada dalam diri, hati ...

Yang Kucari, Lebih dari Gaji

Menjadi seorang guru... Bukan keputusan mudah untuk kuambil. Aku tidak hanya memikirkan ini dalam hitungan hari saja. Aku tidak memiliki pikiran impulsif sama sekali. Kalau ada orang yang bertanya tentang alasan mengapa aku mau menjadi guru, mungkin aku akan menjawab seperti judul tulisan ini. Ya, yang aku cari, lebih dari gaji.  Setelah lulus kuliah, banyak pikiran tentang masa depan yang begitu mengganggu pikiranku. Terutama yang berkaitan tentang pekerjaan. Akan menjadi seperti apa aku nanti? Sebelum wisuda, melihat teman-teman kuliah yang telah lulus, kebanyakan memilih menjadi seorang guru. Dan aku bertanya kepada diriku sendiri, kenapa lulusan Ilmu Hadis (baca: sarjana agama) memiliki karier sebagai guru? Kenapa harus guru? Apakah peluang untuk bekerja di bidang lain sangat sedikit? Apakah kita tidak memiliki banyak keahlian di bidang yang lain? Apakah banyak yang menyesal masuk jurusan Ilmu Hadis? Setelah lulus, satu per satu pertanyaanku terjawab. Aku mengerti mengapa dari ...

LNFIL

Let's Not Fall In Love ~ BIGBANG Jatuh cinta sejak pertama kali aku mendengarnya, membawa perasaan bahagia dan ringan untuk didengarkan. Tanpa sengaja, video yang berisi lagu tersebut lewat dalam beranda akun media sosialku, lirik beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Namun durasi video tersebut hanya beberapa detik dan hanya bagian reff saja. Dari lagu yang singkat tersebut, rasa penasaranku muncul. Tanpa pikir panjang, aku mencarinya di YouTube. Dan hingga hari ini, mungkin lagu itu telah aku putar puluhan kali di Spotify, YouTube dan YouTube Music. Ada apa dengan lagu Let's Not Fall In Love? Ada apa dengan lagunya atau pada diriku? Mari tidak jatuh cinta, arti dari judul lagu tersebut. Menurut halaman Wikipedia,  Let's Not Fall In Love  bercerita tentang seorang pria yang tidak ingin menjalin hubungan lebih jauh lagi bersama wanitanya.  BIGBANG - 우리 사랑하지 말아요(LET'S NOT FALL IN LOVE) M/V Jangan jatuh cinta 우리 사랑하지 말아요 Masih belum tahu banyak 아직은 잘 모르잖아요 Sebena...

MENDESAK

Masih dengan penantian dan pengharapan yang sama, pada satu orang yang telah mengisi hatiku selama beberapa tahun.  Aku membutuhkan kepastian, apakah aku dan kamu masih memiliki kesempatan? Kesempatan untuk bersama, kesempatan untuk merangkai kisah bersama, kesempatan untuk menapaki jalan dengan tujuan yang sama, kesempatan untuk membina hubungan yang lebih serius lagi, kesempatan untuk berbagi kisah dan berkeluh kesah, kesempatan untuk saling memahami dan mengerti satu sama lain, kesempatan untuk menjadi "rumah" yang nyaman, kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua, dan kesempatan-kesempatan yang lain.  DRAFT Dan jawabannya adalah T-I-D-A-K.  20 Maret 2024 aku menulis kalimat-kalimat di atas, dan satu bulan setelahnya, aku memutuskan untuk mengakhirinya. Aku memutuskan untuk berhenti, berhenti untuk membuat kesempatan-kesempatan yang aku tuliskan di atas terwujud suatu saat nanti. Aku memikirkan kembali cerita yang sudah-sudah, tapi selalu memiliki akhir yang sama. Dar...