Langsung ke konten utama

Di Tanah Lada

Di Tanah Lada, novel karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie merupakan buku ke-40 yang telah aku baca. Novel yang bukan sembarang novel, menurutku. Rasa penasaranku sejak 4 tahun lalu telah terjawab sudah. Hampir tiga tahun aku menambahkan novel Di Tanah Lada ke dalam antrean bukuku di aplikasi iPusnas. Banyak orang yang merekomendasikan novel itu dan banyak orang dari mereka pula yang merasa tidak terima tentang bagaimana akhir dari ceritanya, membuatku keinginanku untuk membacanya semakin besar. 

Bagaimana perasaanku ketika membacanya? Di mulai dari bagian awal cerita, di mana aku berkenalan dengan seorang anak perempuan berusia enam tahun yang belum kuketahui siapa namanya. Dia bercerita tentang kematian salah satu orang yang ia sayangi, kakeknya. Sejak awal, aku tidak memiliki ekspektasi bahwa penulis akan menyajikan kisah yang membuat pembacanya berbunga-bunga, merasa bahagia. Aku telah merasakan kesedihan ketika baru saja aku membaca bab pertamanya. Dan bisa ditebak bahwa selama aku membacanya, perasaan miris dan sedih lebih mendominasi. Pertemuan tokoh utama perempuan dengan tokoh utama laki-laki yang berusia sepuluh tahun terjadi secara tidak sengaja. Setelah pertemuan itu, konflik cerita semakin meningkat. Setelah membaca puluhan halaman, anak perempuan tersebut bernama AVA sedangkan anak laki-lakinya bernama P. Keduanya memiliki cerita hidup yang sama namun sebenarnya berbeda. Keduanya memiliki sosok "Papa" yang sama-sama "jahat", menurut mereka. Yang membedakan adalah orang-orang yang ada di sekitarnya dan lingkungan tempat mereka tumbuh.

Bagaimana perasaanku setelah membaca Di Tanah Lada? Jika orang lain merasa akhir ceritanya tidak bisa mereka terima dan mereka menginginkan untuk ada kelanjutannya, maka aku berbeda. Aku selesai membacanya ketika tengah malam. Dan setelah kata terakhir di bab terakhir, berakhir, aku merasa biasa saja. Biasa saja...

Komentar