Langsung ke konten utama

Postingan

TEKAD

Sudah terlalu banyak kata pertanyaan dalam setiap tulisanku. Entah itu apa, mengapa, kapan dan bagaimana. Harusnya di 17 hari tahun 2022 ini, aku memulai cerita baru. Cerita yang dipenuhi oleh kisah-kisah inspiratif yang mungkin suatu saat nanti dapat memberikan inspirasi bagi siapapun yang membacanya. Bukan hanya sekedar tulisan yang penuh dengan ketidakjelasan yang isinya hanya perihal perasaan. Perasaan yang berusaha untuk dipertahankan sekuat tenaga, namun terkadang berada di fase yang ingin sekali melepaskannya. Mengenyahkan dan membuangnya di dasar jurang yang paling dalam di alam semesta ini.  Aku... Sedang berusaha menguatkan tekadku. Sedang berusaha menggali potensiku. Sedang berusaha mencari tahu apa yang sedang menjadi tujuanku hidupku. Sedang berusaha untuk meluruskan langkahku menuju impian-impian yang telah aku rencanakan. Skripsi... Sepertinya dunia di luar sana sangat indah. Lebih indah jika hanya dibandingkan dengan kamar kosku yang di dalamnya terdapat aku yang me...

PENGEMIS

 Aku hanya ingin egois, untuk sebentar saja. Apakah itu tidak diperbolehkan?  Apakah itu terlarang jika aku hanya ingin sedikit waktumu untuk diriku? Selama ini aku berusaha untuk tetap mengerti dirimu, aktivitasmu dan kesibukanmu. Rasa-rasanya aku ini lebih cocok disebut sebagai "pengemis" daripada orang yang mencintaimu. Bagaimana tidak, aku berkali-kali memohon agar dirimu meluangkan waktumu untuk diriku. Mengharap belas kasihan darimu. Mengharap ucapan cinta darimu. Mengharap kamu selalu ada untuk diriku. Padahal yang aku pahami,  "Orang yang mencintaimu akan selalu meluangkan waktunya untuk dirimu, untuk selalu ada untukmu. Meskipun kamu tidak pernah meminta itu." Masih saja ya... Masih saja aku goblok perihal mencintai seseorang.  Orang-orang berkata bahwa aku telah kehilangan jati diriku yang sebenarnya. "Kamu bukanlah dirimu sendiri di hadapannya."  Aku menyadari, diriku yang sebenarnya adalah cuek dan bodo amat tentang banyak hal. Namun di depanny...

Malamku Sendu

  Malam ini aku sedang bersedih… Aht…. Rasanya begitu menyesakkan dada. Tangisku tanpa suara. Sakitku tanpa luka. Emosi menguasai. Rasa egois untuk memiliki sepenuhnya hadir kembali. Aku marah.. Aku lelah... Dan aku ingin menyerah… Kamu sudah sering mendengarkan cerita-ceritaku. Dan mungkin kamu juga sudah bosan membacanya.  Tapi kalau bukan kepadamu aku bercerita, menumpahkan keluh kesahku, lantas kepada siapa lagi aku harus bercerita? Orang-orang di sekitarku sekarang tidak bisa sepenuhnya mengertiku sama seperti kamu mengertiku… Kumohon… Jangan pernah jenuh dengan diriku dan ocehanku... Aku capek. Rasanya hidupku hampa tanpa arah tujuan yang jelas. Dan tiba-tiba terdengar sebuah lagu… Tetes air mata basahi pipiku Di saat kita kan berpisah Terucapkan janji padamu kasihku Takkan kulupakan dirimu Begitu beratnya kau lepas diriku Sebut namaku jika kau rindukan aku Aku akan datang Mungkinkan kita kan selalu bersama Walau terbentang jarak antara kita Biarkan kupeluk erat bayangmu...

KAMU

Teruntuk yang tersayang... Semoga kamu membaca ini, suatu saat ini... Entah kapan itu... Selamat malam Mas... Bagaimana kabarnya? Semoga baik-baik saja ya... Semoga malammu disana membawa ketenangan dan kedamaian untuk menemani istirahatmu. Istirahat dari lelahnya aktivitasmu hari ini,  istirahat dari penuhnya beban pikiranmu hari ini, istirahat dari segala kepenatan yang kamu alami hari ini. Aku sadar, aku bukan prioritasmu. Aku mencoba mengerti dirimu dan kesibukanmu. Aku sabar untuk selalu menanti kabar darimu. Aku selalu menunggu balasan pesan darimu.  Setiap waktu. Setiap saat. Tapi kenapa harus selalu aku yang mengertimu? Kenapa kamu tidak pernah mencoba untuk mengertiku? Apakah kamu tidak tahu bahwa aku selalu merindukanmu? Apakah kamu tidak tahu bahwa aku selalu memikirkanmu? Apakah kamu tidak tahu bahwa aku ingin kamu selalu ada di dekatku? Apakah kamu tidak tahu bahwa aku ingin kamu selalu menganggapku ada? Mas... Jujur saja, aku lelah. Aku lelah jika harus menunggu....

PEMIKIR

Aku... Aku selalu bertanya-tanya tentang siapa aku, siapa diriku, siapa jiwaku... Jika orang-orang berkata buruk tentangku, aku selalu bertanya, apa salahku? Apakah ada kata-kataku yang menyinggungnya? Jika orang-orang berbuat tidak baik padaku, aku selalu bertanya, apa salahku? Apakah aku pernah memperlakukannya dengan tidak baik? Hari-hariku selalu dipenuhi dengan pertanyaan. Pertanyaan tentang apapun yang terlintas. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menganggu pikiranku. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu meribetkan diriku sendiri. Hidupku terlalu memikirkan sesuatu yang membuat waktuku terbuang sia-sia saja. Hidupku terlalu memikirkan apa yang akan terjadi esok hari. Hidupku terlalu memikirkan respon orang lain terhadap adanya aku.  Hidupku terlalu memikirkan apa yang dipikiran orang lain tentang aku. Hidupku terlalu memikirkan masalah orang lain yang itu tidak ada kaitannya dengan aku dan kehidupanku. Sudah tahu, sudah paham kalau itu tidak penting. Tapi selalu saja pikiran itu me...

LELAH

Lelah ya... Menantikan kabar dari seseorang yang sering menghilang ditelan kesibukannya. Lelah ya... Merindukan seseorang yang tak pernah bersyukur memiliki kamu. Lelah ya... Mengharapkan seseorang yang tak pernah menganggapmu ada. Lelah ya... Iya, lelah banget tentunya. Terus bertahan dengan rasa lelah yang menguras semangat. Baik jiwa, raga, maupun pikiran. Kenapa harus aku yang menjadi pihak yang selalu menunggu?  Kenapa harus aku yang menjadi pihak yang selalu menanti? Kenapa harus aku yang menjadi pihak yang selalu berharap? Mengapa harus aku? Mengapa harus aku? Mengapa harus aku? Mengapa harus aku yang selalu menanyakan kabarmu, harimu dan kesibukanmu? Aku perempuan.  Aku selalu bertahan. Aku punya perasaan. Aku lelah jika selalu diabaikan. Aku lelah jika selalu dinomorduakan. Aku lelah jika selalu dikesampingkan. Aku lelah jika adanya aku selalu diremehkan. Aku lelah jika perhatianku selalu disepelekan. Aku lelah jika hadirku tidak pernah dihiraukan. Aku lelah... Aku le...

Singgah, Sanggah dan Sungguh

Apakah dirimu adalah sebuah rumah? Jika jawabannya 'iya', apakah dirimu adalah tempat singgah? Jika jawabannya 'iya', apakah orang-orang di dalamnya ramah? Jika jawabannya 'iya', apakah mereka tak pernah marah?  Bagaimana perlakuan mereka terhadap orang-orang yang berbuat salah? Apakah mereka hanya diam dan bilang terserah? Ataukah mereka membuatnya seperti orang yang kalah? Apakah mereka memberikan dakwaan dan menjatuhkan vonis? Mengapa harus ada kata berjuang jika sebenarnya tidak ada yang harus diperjuangkan? Begitu pula dengan berkorban. Mengapa kata berkorban seakan-akan terlalu dramatis ketika didengar? Mengapa harus berjuang dan berkorban? Siapa yang pantas mendapatkan sebuah penghargaan dari kata pujian yang terucap? Aku ulangi, siapa yang sebenarnya pantas? "Siapa" masih menimbulkan tanda tanya, individu atau semuanya? Sepertinya harus memfokuskan terlebih dahulu pertanyaannya hingga bisa menentukan jawaban yang tepat. Di mana menemukan orang ...