Langsung ke konten utama

PEMIKIR

Aku...

Aku selalu bertanya-tanya tentang siapa aku, siapa diriku, siapa jiwaku...

Jika orang-orang berkata buruk tentangku, aku selalu bertanya, apa salahku? Apakah ada kata-kataku yang menyinggungnya?

Jika orang-orang berbuat tidak baik padaku, aku selalu bertanya, apa salahku? Apakah aku pernah memperlakukannya dengan tidak baik?

Hari-hariku selalu dipenuhi dengan pertanyaan. Pertanyaan tentang apapun yang terlintas.

Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menganggu pikiranku.

Pertanyaan-pertanyaan itu selalu meribetkan diriku sendiri.

Hidupku terlalu memikirkan sesuatu yang membuat waktuku terbuang sia-sia saja.

Hidupku terlalu memikirkan apa yang akan terjadi esok hari.

Hidupku terlalu memikirkan respon orang lain terhadap adanya aku. 

Hidupku terlalu memikirkan apa yang dipikiran orang lain tentang aku.

Hidupku terlalu memikirkan masalah orang lain yang itu tidak ada kaitannya dengan aku dan kehidupanku.

Sudah tahu, sudah paham kalau itu tidak penting. Tapi selalu saja pikiran itu melintas.

Sadar atau tidak sadar, apa yang aku lihat melalui mata, berujung masuk ke dalam pikiran.

Itulah aku...

Sang pemikir... 

Ada aja yang dipikirin.

Ada aja yang diributin.

Ada aja yang diribetin.

Padahal hidupku akan jauh lebih tenang jika tanpa pikiran-pikiran itu. 

Bebas...

Lepas...

Hempas...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIAPA PUN

Sejujurnya, ada hal yang mengusik pikiranku selama 7 bulan terakhir ketika aku membuka akun blogger ini. Selain mengusik, hal itu juga menjadi pertanyaan yang ingin aku temukan jawabannya. Adalah, Bagaimana mungkin orang-orang bisa membaca tulisan-tulisanku? Dari pencarian yang mana, mereka bisa sampai di halaman yang isinya hanya omong kosong? Apakah itu sebuah ketidaksengajaan? Atau mungkin saja, sengaja? Dalam setiap tulisanku selama 7 bulan ini, ada beberapa orang yang melihatnya. Jumlahnya tak banyak, bisa dihitung dengan jari tangan kanan.  Memang, aku ingin menjadi penulis yang terkenal. Tapi, rasanya aneh jika ada orang yang membaca tulisanku. Aku? Merasa tidak percaya diri ketika ada orang yang membacanya. Kebiasaanku yang mungkin "buruk" ketika aku menulis adalah aku tidak bisa membaca kembali apa yang sudah aku tulis. Rasa yang aku berikan ketika aku menulis dengan rasa ketika aku telah selesai menulisnya itu sangat berbeda, menurutku. Ada tulisan yang aku buat ket...

Terima Kasih

 Hai kamu... Terima kasih ya... Sudah bertahan sampai detik ini. Terima kasih, telah sampai di detik ini. Terima kasih, kamu masih semangat menjalani hari ini. Pasti tidak mudah kan untuk melewati semua ini, tapi ternyata kamu bisa kuat.  Kamu bisa tetap kokoh berdiri di tengah semua rasa yang menghampirimu. Lelah, sedih, stres,  dan tertekan, semua pernah kamu rasakan. Kamu tahu, siapa musuh terbesarmu? Jawabannya adalah dirimu sendiri. Ketika tidak ada lagi orang-orang yang menjadi lawanmu, kamu harus bisa melawan dirimu sendiri. Kamu harus menghadapi dirimu; ketakutanmu, kemalasanmu, kekhawatiranmu, kecemasanmu, kelelahanmu, keputusasaanmu, dan yang lainnya. Satu kunci yang harus kamu pegang, kamu harus selalu tersenyum. Bagaimanapun keadaannya, kamu yang mencakup jiwamu, hatimu, juga pikiranmu harus seneng. Beban bukan beban jika dilakukan dengan hati yang gembira. Lelah bukan lelah jika dilakukan dengan jiwa yang bahagia. Jalani sepenuh hati.  Jalani dengan kesu...

SENTILAN

          Hariku, hari ini, bukan hanya hari biasa. Mungkinkah sebuah kebetulan? Tapi rasa-rasanya tidak tepat jika disebut dengan kebetulan. Bukankan dalam hidup sudah ada yang mengaturnya? Mengatur jalan hidup(?) Termasuk pertemuan hari ini. Mungkin lebih tepatnya ketidaksengajaan bagiku, tapi sebuah takdir yang telah ditulis oleh Tuhan. Bertemu dan berbincang dengan seseorang yang dari dulu selalu kuanggap "guru". Bukan guru sembarang guru. Namun seorang guru yang selalu berusaha untuk memahami santrinya. Meskipun kedudukannya sekarang sama dan setara, aku tetap menganggapnya guruku.            Obrolan siang tadi bukan obrolan sembarang obrolan. Obrolan yang biasanya hanya "seadanya" dan "sekenanya" karena ada sebuah dinding pemisah meskipun saling berhadapan, berubah menjadi obrolan yang panjang dan penuh makna. Tentunya bagi diriku.            Sebuah sentilan.     ...