Langsung ke konten utama

HARAPAN

Hai....
Lelah ya...
Lelah ya sama dirimu sendiri...
Lelah ya melihat ketertinggalan dirimu jika dibandingkan dengan orang lain...
Merasa sudah berjuang sekuat tenaga
Tapi ternyata masih begini-begini saja rasanya
Pun juga orang yang melihat ke arah kita
Tak ada perubahan yang berarti
Baik bagi diri sendiri maupun masa depan 
Apakah dalil, "setiap orang memiliki jalannya masing-masing!" masih berlaku?
Mengapa rasanya jalanku panjang sekali
Teman-temanku sudah sampai di jalan suksesnya mereka
Mengapa aku masih tetap di lubang jalanku?
Kapan aku bakal sampai ke jalan suksesku?
Masih lamakah?
Atau sebentar lagi?
2022 bakal berakhir
2023 akan menyambut
Tinggal menghitung dengan jari
Semua yang terjadi di 2022 akan menjadi kenangan
Entah kenangan buruk yang hanya melukai hati 
Entah kenangan baik yang membekas menjadi rasa bahagia bagi diri

Bukankah kamu masih memiliki harapan esok hari?
Bukankah hari baru adalah harapan baru?
Teruslah berharap akan kebahagiaan.
Cepat atau lambat, kebahagiaan yang kamu harapkan akan terwujud nyata di depanmu
Semoga kebahagiaan itu membuatmu melupakan rasa sakitmu selama ini. 
Entah semua atau hanya sebagian saja
Kuharap kan menjadi nyata
Baik kini, esok hari, maupun suatu saat nanti.
Aku percaya kamu dapat meraih itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIAPA PUN

Sejujurnya, ada hal yang mengusik pikiranku selama 7 bulan terakhir ketika aku membuka akun blogger ini. Selain mengusik, hal itu juga menjadi pertanyaan yang ingin aku temukan jawabannya. Adalah, Bagaimana mungkin orang-orang bisa membaca tulisan-tulisanku? Dari pencarian yang mana, mereka bisa sampai di halaman yang isinya hanya omong kosong? Apakah itu sebuah ketidaksengajaan? Atau mungkin saja, sengaja? Dalam setiap tulisanku selama 7 bulan ini, ada beberapa orang yang melihatnya. Jumlahnya tak banyak, bisa dihitung dengan jari tangan kanan.  Memang, aku ingin menjadi penulis yang terkenal. Tapi, rasanya aneh jika ada orang yang membaca tulisanku. Aku? Merasa tidak percaya diri ketika ada orang yang membacanya. Kebiasaanku yang mungkin "buruk" ketika aku menulis adalah aku tidak bisa membaca kembali apa yang sudah aku tulis. Rasa yang aku berikan ketika aku menulis dengan rasa ketika aku telah selesai menulisnya itu sangat berbeda, menurutku. Ada tulisan yang aku buat ket...

Terima Kasih

 Hai kamu... Terima kasih ya... Sudah bertahan sampai detik ini. Terima kasih, telah sampai di detik ini. Terima kasih, kamu masih semangat menjalani hari ini. Pasti tidak mudah kan untuk melewati semua ini, tapi ternyata kamu bisa kuat.  Kamu bisa tetap kokoh berdiri di tengah semua rasa yang menghampirimu. Lelah, sedih, stres,  dan tertekan, semua pernah kamu rasakan. Kamu tahu, siapa musuh terbesarmu? Jawabannya adalah dirimu sendiri. Ketika tidak ada lagi orang-orang yang menjadi lawanmu, kamu harus bisa melawan dirimu sendiri. Kamu harus menghadapi dirimu; ketakutanmu, kemalasanmu, kekhawatiranmu, kecemasanmu, kelelahanmu, keputusasaanmu, dan yang lainnya. Satu kunci yang harus kamu pegang, kamu harus selalu tersenyum. Bagaimanapun keadaannya, kamu yang mencakup jiwamu, hatimu, juga pikiranmu harus seneng. Beban bukan beban jika dilakukan dengan hati yang gembira. Lelah bukan lelah jika dilakukan dengan jiwa yang bahagia. Jalani sepenuh hati.  Jalani dengan kesu...

SENTILAN

          Hariku, hari ini, bukan hanya hari biasa. Mungkinkah sebuah kebetulan? Tapi rasa-rasanya tidak tepat jika disebut dengan kebetulan. Bukankan dalam hidup sudah ada yang mengaturnya? Mengatur jalan hidup(?) Termasuk pertemuan hari ini. Mungkin lebih tepatnya ketidaksengajaan bagiku, tapi sebuah takdir yang telah ditulis oleh Tuhan. Bertemu dan berbincang dengan seseorang yang dari dulu selalu kuanggap "guru". Bukan guru sembarang guru. Namun seorang guru yang selalu berusaha untuk memahami santrinya. Meskipun kedudukannya sekarang sama dan setara, aku tetap menganggapnya guruku.            Obrolan siang tadi bukan obrolan sembarang obrolan. Obrolan yang biasanya hanya "seadanya" dan "sekenanya" karena ada sebuah dinding pemisah meskipun saling berhadapan, berubah menjadi obrolan yang panjang dan penuh makna. Tentunya bagi diriku.            Sebuah sentilan.     ...