Langsung ke konten utama

Lelah

Lelah, Tuhan! Aku sudah tak kuat lagi menanggung beban hidup. Aku sudah tak sesabar dulu lagi saat menjumpai cobaan. Aku sudah tak tahan lagi menghadapi semua ini. Aku sudah sangat lelah, tak ada gairah untuk terus menghirup nafas. Dan aku telah berputus asa dan mulai menyerah.

Begitulah sedikit narasinya, berkeluh kesah tak mau terus melangkah, hanya bisa mengadu tanpa berusaha mencari tahu jawaban yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan. Lelah bukan hanya kamu yang merasakan. Semua orang merasakan itu. Kesibukanmu adalah sesuatu yang diharapkan oleh banyak pengangguran. Lelah boleh, tapi jangan sampai kamu menyerah. Karena jika kamu menyerah, kesuksesan yang ada di ujung jalan sana tak mungkin kau dapatkan. Jika kau terlambat sedikit saja, bukan tak mungkin kau kalah cepat dengan orang-orang yang mempunyai tujuan yang sama denganmu. Pantang menyerah dan terus berusaha, tak pernah takut dengan kegagalan dan terus belajar dari kegagalan, optimis akan sesuatu dan tak pernah pesimis, yakin semua akan baik-baik saja dan tak pernah ragu dalam setiap langkah, selalu berpikiran positif dan menjauhkan pikiran negatif, mendekati Tuhan meminta pertolongan dan tak pernah melupakannya, berbuat kebaikan dan tak ada keinginan untuk berbuat kejahatan.

Tuhan tahu kapan kamu harus bahagia. Tuhan tahu kapan kamu sukses. Tuhan tahu semua yang kamu alami. Karena Tuhan selalu menemanimu, tak pernah sedetik pun jauh darimu. Karena sejatinya Tuhan adalah teman sejatimu. 😄


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIAPA PUN

Sejujurnya, ada hal yang mengusik pikiranku selama 7 bulan terakhir ketika aku membuka akun blogger ini. Selain mengusik, hal itu juga menjadi pertanyaan yang ingin aku temukan jawabannya. Adalah, Bagaimana mungkin orang-orang bisa membaca tulisan-tulisanku? Dari pencarian yang mana, mereka bisa sampai di halaman yang isinya hanya omong kosong? Apakah itu sebuah ketidaksengajaan? Atau mungkin saja, sengaja? Dalam setiap tulisanku selama 7 bulan ini, ada beberapa orang yang melihatnya. Jumlahnya tak banyak, bisa dihitung dengan jari tangan kanan.  Memang, aku ingin menjadi penulis yang terkenal. Tapi, rasanya aneh jika ada orang yang membaca tulisanku. Aku? Merasa tidak percaya diri ketika ada orang yang membacanya. Kebiasaanku yang mungkin "buruk" ketika aku menulis adalah aku tidak bisa membaca kembali apa yang sudah aku tulis. Rasa yang aku berikan ketika aku menulis dengan rasa ketika aku telah selesai menulisnya itu sangat berbeda, menurutku. Ada tulisan yang aku buat ket...

Lagu Itu...

Lagu itu... Adalah sebuah lagu yang mengingatkanku akan dirinya. Lagu yang pernah ia bilang sebagai "musik pertama" yang membuatnya "penasaran". Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaanku padanya sekarang. Dalam doaku terakhir kali, aku meminta jika ia bukan jodohku, semoga Tuhan menghapuskan segalanya tentang dia. Apa pun; perasaan, pikiran, serta kenangan yang pernah aku lalui bersama. Dan sekarang, orang itu masih memiliki sedikit tempat di hidupku. Entah bakal bertahan berapa lama, aku pun tak bisa menjawabnya.  Sampai Jadi Debu-Banda Neira . Kembali, tentang lagu. Karena orang tersebut, aku ikut mendengarkannya. Bukan karena aku suka, tapi orang yang aku suka menyukai lagu itu, aku jadi ikut suka. Setiap aku mendengarkan musik dalam mode santai, wajib bagi diriku untuk memutarnya. Dengan diiringi keheningan malam, setiap mendengar lagunya, menikmati alunan musiknya, mencoba memahami makna dalam setiap liriknya, pikiranku tertuju pada bayang-bayang yang tid...

Tentang Ziggy

Ziggy? Siapa Ziggy? Ziggy siapa? Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, seorang penulis Indonesia yang telah menerbitkan banyak buku. Aku menulis Tentang Ziggy sebagai wadah baru untuk menuangkan apa yang ada di dalam otakku setelah membaca beberapa buku karyanya.  Mari kita mulai. Aku telah membaca Di Tanah Lada (2015), Jakarta Sebelum Pagi (2016), White Wedding (2016), dan yang baru saja selesai Semua Ikan Di Langit (2017). Dan keempatnya aku baca di iPusnas. Bagaimana pada mulanya aku bisa membaca novel karangannya? Aku lupa persis kapan. Tapi, berdasarkan ingatanku yang ternyata tidak sekuat yang aku bayangkan, aku mulai mengetahui namanya dari Twitter―sebelum berubah nama menjadi X. Banyak orang yang berkomentar dalam sebuah Tweet tentang buku yang membuat orang yang telah selesai membacanya merasa kosong, dan mereka menulis "Di Tanah Lada" atau "novel karya Ziggy". Di lain itu, pada waktu yang lain, banyak orang yang menyayangkan tentang berita yang menyatakan bah...