Langsung ke konten utama

#1 Latihan: Dari Mana Datangnya "Emosi Ini"?

Latihan Dari Mana Datangnya "Emosi Ini"? bertujuan untuk membantu Anda memahami lebih dalam tentang emosi-emosi yang Anda rasakan. Latihan ini bersumber dari buku "The Book You Wish Your Parents Had Read" karya Philippa Perry halaman 18.

"Perhatikanlah seberapa sering Anda merasa marah, merasa paling benar sendiri, tersinggung, panik, malu, membenci diri sendiri, atau terasing. Temukan pola dalam bereaksi terhadap emosi ini. Tinjaulah ketika Anda pertama kali merasakannya, telusuri masa kecil Anda, ketika Anda mulai meresponsnya. Dengan begitu, Anda akan mulai memahami sejauh mana reaksi itu menjadi kebiasaan. Dengan kata lain, respons yang sama akan terjadi karena telah menjadi kebiasaan, ketimbang berkaitan dengan situasi saat ini."

Setelah membaca bagian tersebut, saya mulai memikirkan dan menelusuri perasaan saya sendiri. 

Yang terpikirkan oleh saya saat ini adalah perasaan membenci diri sendiri. 

Saya lupa tepatnya kapan, namun yang saya ingat, perasaan membenci diri sendiri ini mulai muncul ketika saya melihat sebuah foto masa kecil di mana saya menjadi pengapit manten dalam pernikahan Om dan Tante saya pada usia 7 tahun. Dalam foto saya dengan wajah penuh dengan riasan, saya justru fokus ke salah satu bagian dari wajah saya, yaitu mata. Kelopak mata saya ditempeli stiker yang berfungsi sebagai pengganti eyeshadow. Menurut orang dewasa di sekitar saya, mata saya termasuk sipit dan sering juga dipanggil "si sipit" oleh orang-orang. Saya merasa di foto tersebut, bentuk mata saya tidak sama antara yang kanan dan kiri. Saya merasa mata saya aneh dan tidak sempurna karena sipitnya berbeda. Saya benci dengan mata saya berlangsung bertahun-tahun bahkan hingga saya tumbuh remaja.

Perasaan membenci diri sendiri tidak sampai di situ. Saya sering dikomentari masalah fisik oleh orang-orang sekitar saya, terutama keluarga saya. Misalnya jidat saya yang lebar waktu kecil diibaratkan seperti lapangan, paha dan betis yang besar diibaratkan seperti daging yang bisa dimakan satu RT, dan juga jerawat. Jerawat tumbuh di wajah ketika saya kelas 5 (± 10 tahun). Orang-orang bertanya, "apakah kamu sudah menstruasi?" Saya jawab, "belum". Jerawat yang muncul diidentikkan dengan pubertas. Padahal saya baru  mengalami menstruasi pertama kali ketika kelas 8. Jerawat tersebut mulai menyebar di seluruh wajah dengan posisi muncul yang berbeda-beda. Kadang di dahi, pipi kanan, pipi kiri, maupun di dagu. Ketika saya berusia 19 tahun, saya masih sering diolok-olok oleh orang tua saya karena jerawat dan bekasnya. Ada beberapa perkataan yang membuat saya sakit hati.

"Itu wajah atau jalan gak di aspal?"

"Itu wajah atau parutan kelapa?"

"Percuma pakai skincare. Sama aja. Gak ada bedanya."

Saya sering merasa rendah diri ketika mendengar komentar "jahat" orang-orang  tentang fisik saya. Ada perasaan marah dan membenci diri sendiri. Saya merasa jelek, sehingga saya tidak berani untuk tampil di muka umum dengan fisik saya yang tidak sempurna ini. Ketika memandang kaca, fokus saya hanya ke jerawat saya tak kunjung sembuh dan bahkan menyebar ke seluruh wajah. Ketika ada yang memuji saya cantik, saya merasa tidak pantas dan mempertanyakan pujian itu apakah pantas untuk saya atau tidak.

Namun, saya mulai menyadari bahwa selalu menilai kekurangan di tubuh saya tidak akan membuat saya berkembang dan justru semakin membuat saya benci kepada fisik yang telah Tuhan berikan kepadaku ini. Saya mulai belajar untuk bodo amat dengan komentar orang dengan fisik saya. Saya mulai berpikiran bahwa komentar orang adalah sesuatu yang tidak bisa saya kontrol dan sifatnya netral.  Perlahan saya mulai belajar untuk menerima diri saya sendiri sepenuhnya. Hingga detik ini, saya masih berusaha untuk mencintai diri saya sendiri, terutama dengan kekurangan saya dalam hal fisik. 

Peluk erat untuk diriku sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIAPA PUN

Sejujurnya, ada hal yang mengusik pikiranku selama 7 bulan terakhir ketika aku membuka akun blogger ini. Selain mengusik, hal itu juga menjadi pertanyaan yang ingin aku temukan jawabannya. Adalah, Bagaimana mungkin orang-orang bisa membaca tulisan-tulisanku? Dari pencarian yang mana, mereka bisa sampai di halaman yang isinya hanya omong kosong? Apakah itu sebuah ketidaksengajaan? Atau mungkin saja, sengaja? Dalam setiap tulisanku selama 7 bulan ini, ada beberapa orang yang melihatnya. Jumlahnya tak banyak, bisa dihitung dengan jari tangan kanan.  Memang, aku ingin menjadi penulis yang terkenal. Tapi, rasanya aneh jika ada orang yang membaca tulisanku. Aku? Merasa tidak percaya diri ketika ada orang yang membacanya. Kebiasaanku yang mungkin "buruk" ketika aku menulis adalah aku tidak bisa membaca kembali apa yang sudah aku tulis. Rasa yang aku berikan ketika aku menulis dengan rasa ketika aku telah selesai menulisnya itu sangat berbeda, menurutku. Ada tulisan yang aku buat ket...

Lagu Itu...

Lagu itu... Adalah sebuah lagu yang mengingatkanku akan dirinya. Lagu yang pernah ia bilang sebagai "musik pertama" yang membuatnya "penasaran". Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaanku padanya sekarang. Dalam doaku terakhir kali, aku meminta jika ia bukan jodohku, semoga Tuhan menghapuskan segalanya tentang dia. Apa pun; perasaan, pikiran, serta kenangan yang pernah aku lalui bersama. Dan sekarang, orang itu masih memiliki sedikit tempat di hidupku. Entah bakal bertahan berapa lama, aku pun tak bisa menjawabnya.  Sampai Jadi Debu-Banda Neira . Kembali, tentang lagu. Karena orang tersebut, aku ikut mendengarkannya. Bukan karena aku suka, tapi orang yang aku suka menyukai lagu itu, aku jadi ikut suka. Setiap aku mendengarkan musik dalam mode santai, wajib bagi diriku untuk memutarnya. Dengan diiringi keheningan malam, setiap mendengar lagunya, menikmati alunan musiknya, mencoba memahami makna dalam setiap liriknya, pikiranku tertuju pada bayang-bayang yang tid...

Tentang Ziggy

Ziggy? Siapa Ziggy? Ziggy siapa? Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, seorang penulis Indonesia yang telah menerbitkan banyak buku. Aku menulis Tentang Ziggy sebagai wadah baru untuk menuangkan apa yang ada di dalam otakku setelah membaca beberapa buku karyanya.  Mari kita mulai. Aku telah membaca Di Tanah Lada (2015), Jakarta Sebelum Pagi (2016), White Wedding (2016), dan yang baru saja selesai Semua Ikan Di Langit (2017). Dan keempatnya aku baca di iPusnas. Bagaimana pada mulanya aku bisa membaca novel karangannya? Aku lupa persis kapan. Tapi, berdasarkan ingatanku yang ternyata tidak sekuat yang aku bayangkan, aku mulai mengetahui namanya dari Twitter―sebelum berubah nama menjadi X. Banyak orang yang berkomentar dalam sebuah Tweet tentang buku yang membuat orang yang telah selesai membacanya merasa kosong, dan mereka menulis "Di Tanah Lada" atau "novel karya Ziggy". Di lain itu, pada waktu yang lain, banyak orang yang menyayangkan tentang berita yang menyatakan bah...